expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 28 Januari 2015

Bukan Ngompol biasa,.... Enuresis

Enuresis, Bukan Ngompol biasa...
Ngompo itu dianggap normal sampai usia berapa sih?
Umumnya masih oke sampai 5 tahun. Di atas usia itu, mungkin enuresis.
Enuresis termasuk dalam gangguan eliminasi (pengeluaran sisa tubuh). Enuresis=ngompol, Encopresis=kecipirit (BAB tidak pada tempatnya). Ngompol disebut enureisis, jika terjadi pada anak >5 tahun, minimal 2x seminggu dalam 3 bulan berturut-turut, sampai-sampai anak alami masalah sosial/akademis. Kalau ngompol hanya 1X per bulan, tidak disebut enureisis. Juga kalau ngompol karena anak kedinginan/stres, tapi amat jarang, bukan enuresis juga. Kalau ngompol untuk anak di bawah 5 tahun, mau sesering apapun ya ngak disebut enuresis. Juga kalau anak ngompol gara-gara obat tertentu, bukan enuresis. Ada 3 jenis ngompol/enuresis:
1.      Nocturnal only (Hanya malam hari, yang paling sering terjadi pada anak-anak)
2.      Diurnal only (Hanya siang hari, seringnya di hari sekolah)
3.      Kombinasi, malam dan siang hari
Prevalensi ngompol enuresis: 5 tahun= 13-33%. 10 tahun= 3% laki-laki & 2% perempuan. Remaja= sekitar 1%. Diurnal enuresis > jarang = 3 % anak 6 tahun. Ada juga sih yang alami enuresis sekunder, artinya sudah berhasil tidak ngompol, selalu pipis di toilet, lalu kembali ngompol setelah usia 5 tahun. Sebagian besar anak ngompol di atas 5 tahun alami enuresis primer, artinya masih terus ngompol sejak bayi, belum berhasil atur tidak ngompol. Kadang anak-anak enuresis sekunder karena alami stres besar, misalnya baru punya adik, pindah rumah, binatang peliharaan mati, orangtua cerai, dll.
Apa sih efeknya kalau anak ngompol padahal sudah besar (enuresis)?
Seringkali anak alami ejekan dari teman, dijauhi/diasingkan teman. Anak enuresis sangat mungkin menolak menginap di rumah orang lain, menolak berlibur atau camping dengan teman sekolah, takut ngompol. Padahal semakin besar, kebutuhan anak untuk berteman semakin tinggi pula. Kegagalan berteman berpengaruh terhadap emosi anak. Pengaruh ngompol enuresis terhadap emosi anak adalah self esteem alias penghargaan terhadap diri jadi cenderung rendah, jadi kurang percaya diri. Self esteem rendah & kurang PD kadang bikin anak alami masalah-masalah lain misalnya masalah akademis, jadi kesulitan belajar di sekolah. Belum lagi orang tua kadang menghukum, memarahi dan mempermalukan anak ngompol enuresis, bukannya membantu. Keluhan tambah berat jadinya. Salah satu resiko terbesar kalau anak ngompol enuresis, anak mengalami KDRT oleh orang tua, karena orang tua frustasu. Efek negatif meluas jadinya.
Kenapa anak mengalami ngompol enuresis?
Dari segi medis, ada kekurangan hormon antidiuretik (yang tugasnya hambat produksi air seni malam hari). Sebab lain ngompol enuresis, karena anak belum sadar kapan kandung kemih penuh. Mestinya sih begitu kandung kemih penuh, langsung ada impuls saraf yang mengirim sinyal ke otak memberi tahu anak agar segera buang air kecil. Jika belum kenali ini, bisa ngompol enuresis. Sinyal itu yang membuat anak berpikir/mimpi tentang BAK, dan akhirnya membuat anak bangun & ke toilet. Jika tidak kenali sinyal bisa ngompol. Sebab lain ngompol enuresis adalah turunan. Jika kedua orangtua enuresis, 77% kemungkinan anak juga alami. Salah satu orang tua, 44%. Tidak ada orangtua, 15%.
Nah, kalau anak ngompol enuresis, orangtua bisa apa ya?
Kabarnya obat kurang efektif, karena setelah pemberian obat selesai, anak ngompol lagi. Sejauh ini, menurut penelitian-penelitian tentang enuresis, pendekatan psikologis justru lebih ampuh untuk bikin anak tak ngompol lagi. Seperti apa? Yang pasti sih justru kurangi hukuman, apalagi hukuman tidak relevan (misalnya disuruh nulis 100X ‘Saya tidak akan ngompol lagi’). Masih boleh kok beri konsekuensi yang relevan, misalnya jika anak ngompol enuresis, anak diminta mengganti seprai kotor (dengan sedikit sekali bantuan). Ketika memberi konsekuensi, anak tidak usah dimarah-marahin. Lakukan saja dengan tenang, namun tegas. Jika anak menolak maka boleh tahan dulu haknya  (misalnya tidak boleh nonton/main kalau belum ganti seprai), baru diberikan setelah ia ganti seprai. Nah, tadi saya sebut ada pendekatan-pendekatan psikologi yang efektif, apa saja itu? Yuk simak terus.
Cara 1, cek jam berapa biasanya anak ngompol. Misalnya jam 10 malam. Maka sesaat sebelum jam 10 malam, bangunkan anak untuk pipis di WC.
Cara 2, teknik token system. Anak dijanjikan token, misalnya stiker jika ‘kering’ sampai pagi.
Cara 3, malah sebelum tidur, bisikkan ‘Kalau terasa mau pipis, bangun, ke WC, buka celana, pipis di WC. Lalu tidur lagi.’ Memang capek sih orangtuanya. Siapa yang tidak capek kalau harus bangun berkali-kali tiap malam demi kurangi anak ngompol enuresis? Tapi perlu banget nih.
Untuk semua cara di atas, lakukan secara konsisten setiap hari. Biasanya dalam 1-3 minggu ngompol enuresis berkurang drastis. Sudah tentu pendekatan itu tetap perlu dilakukan terus sampai betul-betul punya kebiasaan baru: pipis, tidak ngompol enuresis. Kalau kebiasaan baru sudah terbentuk, tak lagi ngompol enuresis, maka sedikit-sedikit kurangi pendekatan tadi, tapi tetap hangat ke anak ya. Kalau belum juga berkurang, mungkin ada masalah lain yang tidak terdeteksi orang tua. Ajak anak ke psikologi anak untuk penangan ngompol enuresis. Orang tua ikutan konsultasi lho, karena orang tua yang paling mampu untuk bantu anaknya kurangi ngompol enuresis. Nah. Itu dulu ya tulisan kali ini. Semoga berguna ya.


Sumber: @AnnaSurtiNina


Tidak ada komentar:

Posting Komentar