expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 23 Februari 2015

Gondang Winangoen Klaten

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang wisata saya ke Gondangan Winangoen. Tempat ini berada di jalan Solo-Jogja yang tepatnya ada di Desa Gondang Baru Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten.
Agrowisata Gondang Winangoen ini menawarkan berbagai wahana dan obyek wisata menarik dengan nuansa historis yang dipadukan oleh unsur rekreasi dan edukasi. Wisata yang ditawarkan meliputi water park, water slide, flying fox, spyder web, kids zone, jembatan gantung, adventure area, agro therapy, marine brige, wall climbing. Tiket masuk ke agrowisata ini cukup murah karena hanya Rp. 3.000,00. Tetapi, jika ingin memasuki berbagai wahana rekreasi ditariki tarif masuk yang berbeda-beda seperti water park Rp. 5.000,00, water slide Rp. 5.000,00, kids zone Rp. 3.000,00, agro therapy Rp. 3.000,00, dan sebagainya.
Dalam area wisata agro therapy disini disediakan beberapa kolam untuk melakukan terapi dengan ikan-ikan yang telah disediakan. Dalam terapi pun tidak dibatasi oleh waktu, sehingga jika menginginkan bisa terapi seharian dalam area tersebut. Selain dengan terapi ikan juga terdapat berbagai macam jenis tumbuhan untuk kesehatan. Sehingga area itu bisa juga disebut dengan area kesehatan. Selain itu jika para wisata yang ingin mengelilingi area pabrik bisa dengan menggunakan loko uap dengan tarif yang ditawarkan Rp. 8.000,00 sedangkan loko diesel Rp. 5.000,00. Tetapi, pada saat saya berkunjung ke agrowisata tersebut loko tersebut sedang tidak beroperasi dikarenakan tidak bersamaan dengan hari libur.
Para pengelola juga menyediakan berbagai macam fasilitas untuk para pengunjung, seperti: home stay yang awalnya digunakan menjadi rumah dinas. Namun, pada saat ini disewakan untuk masyarakat luas yang digunakan rapat ataupun pernikahan sampai acara penting. Dengan bangunan arsitektur zaman kolonial maka orang lebih suka menyewa tempat ini untuk mengadakan berbagai acara. Seperti halnya dengan auditorium yang daya tampungnya besar juga digunakan untuk acara-acara penting.
Museum steam loco, didalamnya terdapat berbagai macam koleksi kereta kuno yang dahulu dimanfaatkan sebagai alat angkut tebu yang akan digiling. Tetapi, beberapa diantaranya juga masih berfungsi dengan baik dan dijadikan alat transportasi untuk keliling pabrik bagi pengunjung seperti loko uap dan loko diesel. Dan juga terdapat “Rest Area” yang biasanya digunakan oleh para pengendara jarak jauh untuk beristirahat. Biasanya disaat lebaran dibuat pos-pos yang disediakan untul para pemudik dari luar kota.
Selain itu, juga terdapat D’Gonba resto (Banaran) yang menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Sehingga saat berkunjung terasa lapar ataupun haus tidak perlu susah-susah untuk mencari makan atau minum. Di D’Gonba resto juga menyediakan kopi kaligua, teh banaran, dan gua tebu yang semuanya asli dari produksi PG Gondang Winangoen. Dan juga terdapat souvenir center untuk mencari oleh-oleh khas dari kota Klaten.

Agrowisata Gondang Winangoen ini juga bisa untuk kegiatan outbound bagi para wisatawan. Biasanya juga digunakan untuk foto pembuatan album kenangan dan juga foto prawedding. Apabila berkunjung kesini tidaklah menyesal dengan suasana sejuk oleh pepohonan dan rumput hijau yang menghiasi tempat wisata ini. Sehingga sangat cocok untuk berlibur dengan keluarga atau teman.









Curug Lawe dan Benowo Ungaran

Liburan kali ini saya berpetualang ke Air trejun yang berada di Ungaran. Di sekitar Gunung Ungaran, banyak terdapat air terjun, salah satunya adalah Curug Lawe. Curug Lawe terletak di Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang. Pemandangan di Curug Lawe akan menghapus kelelahan yang ada.
Perjalanan menuju ke Curug Lawe cukup mudah. Rute yang saya lewati dari Klaten yaitu, melewati jalan raya Solo-Semarang . setelah itu, kita bisa melewati jalan Raya Gunungpati. Setelah itu kita bisa mencari petunjuk arah menuju ke Curug Lawe, kemudian kita akan melewati Desa Kalisidi. Dari jalan raya, dibutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai pintu masuk air terjun. Di pintu masuk, kita hanya perlu membayar retribusi sebesar Rp 4.000/orang. Dan parkir sepeda motor Rp 2.000/motor


Jalur menuju air terjun atau curug cukup jauh, yaitu sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Jalur yang dilewati cukup bervariasi, mulai dari aliran sungai, jembatan kayu, hingga menyeberang ke sungai. Pemandangan di Curug Lawe juga bagus. Debit air terjun juga sangat deras. Apalagi ketika musim hujan. Oleh karena itu tidak disarankan untuk berenang di bawah air terjun.







Jalan pertama yang kita lewati adalah jalan saluran air. Jalur ini cukup menyenangkan, karena kita bisa menikmati aliran air sungai. selain itu kita juga bisa menikmati pemandangan hijaunya hutan. Nantinya kita juga akan melewati jembatan kayu. Jembatan kayu ini diberi nama Jembatan Romantis. Sebaiknya Anda berfoto di jembatan ini, karena pemandangannya sangat bagus. Batas dari jalur ini adalah sebuah bangunan tempat pengaturan debit air.








Jembatan Romantis

Jembatan Romantis





Setelah jalur aliran air, kita akan melewati jalan setapak. Kita hanya perlu mengikuti petunjuk arah saja. nantinya kita akan menjumpai jalan percabangan yang membagi jalur menjadi dua. Yang pertama menuju Curug Benowo, dan yang kedua menuju ke Curug Lawe. Kebetulan saya menuju ke Curug Benowo terlebih dahulu sebelum menuju ke Curug Lawe. Perjalanan ke Curug Benowo juga masih berupa jalan setapak.
Curug Benowo

Curug Benowo

Curug Benowo

Curug Benowo

Setelah sampai di Curug Benowo, kita bisa langsung menuju ke Curug Lawe tanpa harus kembali ke jalur percabangan tadi. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa mencapai Curug Lawe. Jalur yang dilewati juga berupa jalan setapak berpasir. Setelah itu, kita juga akan menyusuri aliran sungai. Sungai cukup dangkal, sepanjang aliran sungai banyak ditemui batang pohon yang tumbang. Bagi saya, hal itu menambah kesan natural yang ada di air terjun ini.
Curug Lawe


Curug Lawe

Setelah melewati aliran sungai, kita akan sampai di Curug Lawe. Pemandangan Curug Lawe sangat indah, disertai debit air yang jatuh cukup deras. Curug Lawe berada dalam tebing yang melingkar. Dibandingkan dengan Curug Benowo, pemandangan Curug Lawe lebih eksotik. Seakan-akan memberikan pesona pada pandangan Anda.
Disana juga dapat kita temui, seperti
Pohon Sandal

Warung Primitif

Capung

Dan pesan saya, kalau mau ke Curug Lawe dan Benowo, tetap berhati-hati dan jagalah kebersihan..,,



Minggu, 15 Februari 2015

Pemandian Air Panas Bayanan Sragen

Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang oleh-oleh safari home saya ke rumah sahabat kami, Deva Larasati Lestari di daerah Mantingan, Ngawi Jatim yaitu  ke Pemandian Air Panas  Bayanan Sragen Jateng.
Pemandian Air Panas Bayanan merupakan salah satu daerah tujuan wisata minat khusus yang dimiliki oleh Kabupaten Sragen, dalam hal ini adalah untuk wisata kesehatan (Health tourism) yang dipadukan dengan daya tarik wisata alam atau ekowisata.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, air panas Bayanan dianggap memiliki banyak khasiat dalam menyembuhkan beragai penyakit, seperti rematik, gatal-gatal, dan penyakit lainnya. Sehingga oleh orang terdahulu sumber air panas itu di namakan “Hyang Tirto Nirmolo”.
Ternyata kebenarannya terbukti sehingga banyak pengunjung berdatangan untuk membuktikan khasiatnya. Selain bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah, memulihkan kebugaran tubuh, meningkatkan vitalitas tubuh, memelihara sendi-sendi dan otot, menghilangkan capek-capek, dan membuat awet muda.
Selain sebagai wisata kesehatan karena khasiat yang dimiliki oleh air panas ini dalam menyembuhkan berbagai penyakit, Pemandian Air Panas Bayanan juga memiliki daya tarik wiata alam  (ekowisata). Suasana alam pedesaan yang masih alami dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang erasal dari kota. Para wisatawan bisa melakukan kegiatan menjelajah (Tracking) maupun berkemah (Camping) di hutan karet yang berada tidak jauh dari lokasi pemandian tersebut dan di kawasan bukit yang mengitari PAP Bayanan.
Lokasi Umum
Pemandian Air Panas Bayanan ini terletak tepat di sebelah tenggara ibukota Kabupaten Sragen yaitu di Dusun Bayanan, Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen.
Letak Geografis
Secara geografis, Pemandian Air Panas Bayanan terletak sekitar 17 KM di sebelah  tenggara kabupaten Sragen atau 44 KM  dari Kota Solo. Jarak tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum.
Tiket
Untuk menikmati pemandian air panas ini memerlukan biaya sebesar,
·         Senin-Sabtu           : Rp. 4.000,00
·         Minggu dan libur  : Rp. 5.000,00
Sarana dan Prasarana Pendukung
Sarana dan prasarana pendukung pariwisata yang tersedia di Pemandian Air Panas Bayanan cukup memadai. Fasilitas-fasilitas umum yang tersedia di obyek wisata ini antara lain
·         WC Umum
·         Kamar mandi air panas
·         Ruang ganti pakaian
·         Jalan setapak
·         Warung makan
·         Tempat penginapan
·         Toko kelomtong
·         Tempat parkir yang memadai
·         Taman bermain anak
·         Kolam renang
·         Hutan wisata
·         Ruang informasi
·         Mushola
Jalur
Jalur untuk mencapai Pemandian Air Panas Bayanan, yaitu
1.      Sragen-Ngarum-Sambirejo-Sambi-Bayanan
2.      Banaran-Gondang-Sambi-Bayanan
3.      Masaran-Jambangan-Batu Jamus-Kerjo-Sambirejo-Sambi-Bayanan
4.      Karanganyar-Mojogedang-Batu Jamus-Kerjo-Sambirejo-Sambi-Bayanan
5.      Magetan-Jogorogo-Ngrambe-Sine-Winong-Sambi-Bayanan

6.      Karangpandan-Ngargoyoso-Jenawi-Sambirejo-Sambi-Bayanan






Umbul Cokro Tulung Klaten

Hhaaii..haaaiii..,, pada kesempatan ini saya akan bercerita sedikit tentang oleh-oleh saat safari home kami ke rumah sahabat kami, Anisa Mutmainah di Jatinom, Klaten. Dan kami mampir ke Umbul Cokro, Tulung Klaten.  
Tempat ini bernama Umbul (bahasa masyarakat setempat yang digunakan untuk menyebut "mata air") Cokro Tulung. Umbul Cokro terletak di desa Cokro, kecamatan Tulung, kabupaten Klaten. Akses jalan menuju Umbul Cokro jika dari perempatan pasar Delanggu adalah ke arah utara menyebrang jalan Solo-Jogja, kemudian ikuti arah ke pabrik aqua, dari pabrik aqua lurus sampai bertemu pasar, kemudian tinggal belok kiri dan ikuti jalannya.
 Umbul Cokro merupakan tempat pemandian yang airnya berasal dari mata air sungai busur. Karena terletak dialiran mata air sungai busur, air yang terdapat pada kolam Umbul Cokro terbilang jernih dan jauh dari kata kotor. Selain air yang jernih tempat berenang di Umbul Cokro sendiri terdapat banyak pepohonan, sehingga membuat kawasan kolam terasa begitu sejuk, meski cuaca sangat panas.
Untuk masuk di tempat wisata ini pengunjung hanya membayar sebesar 10.000, tiket ini sudah termasuk asuransi keselamatan pengunjung yang masuk di area Umbul Cokro. Selain mempunyai beberapa wahana bermain air dan tempat berenang, di Umbul Cokro juga terdapat flying fox yang bisa memacu adrenalin anda. Cukup membayar 15.000 rupiah saja untuk menikmati tegangnya meluncur dari ketinggian. Umbul Cokro juga menyediakan selter-selter untuk bersantai dan beristirahat ketika selesai berenang. Untuk pengunjung yang tidak mendapatkan tempat diselter-selter bisa duduk santai ditikar-tikar dekat kolam yang biasa disewakan oleh para pedagang di area wisata Umbul Cokro Tulung. Untuk sewa tikar pengunjung dikenakan biaya sebesar 5.000 per orang.

 Terkadang di minggu-minggu tertentu Umbul Cokro menyediakan live konser yang senantiasa menghibur para pengunjung yang datang. Umbul Cokro juga merupakan tempat favorit masyarakat ketika akan memasuki bulan puasa, menjelang bulan puasa masyarakat sekitar mempunyai tradisi tahunan yaitu padusan. Padusan adalah mandi dengan niat membersihkan/mensucikan diri sebelum bulan Ramadhan. Masyarakat akan berbondong-bondong menuju umbul atau sumber mata air untuk mandi. Mereka mensucikan diri dengan cara mandi keramas. Ketika padusan Umbul Cokro akan sangat ramai, untuk teman-teman yang ingin mengunjungi dan menikmati wisata di Umbul Cokro sebaiknya hindari hari-hari besar dan tradisi tahunan padusan. Mungkin sekian dari referensi saya tentang Umbul Cokro Tulung, semoga bermanfaat, terimakasih sudah membaca. 











Candi Sukuh Karanganyar

Assalamualaikum, sahabat... Pada kesempatan ini, saya berbagi cerita saya tentang oleh-oleh saat daya bersafari home ke rumah sahabat kami, Faqih Nur Rusmiyati di daerah Tasikmadu, Karanganyar. Dan kami berwisata ke Candi Sukuh.
Karanganyar adalah sebuah kabupaten yang masih termasuk dalam wilayah karesidenan Surakarta yang terletak kurang lebih 20 km dari kota Solo. Selain mempunyai wisata alam Air Terjun yang indah seperti Grojogan Sewu, Air Terjun Jumog, kabupaten Karanganyar juga memiliki peninggalan dua buah candi Hindu yg masih utuh dan terawat sampai detik ini. Untuk menuju komplek candi hanya perlu mengarahkan kendaraan dari Solo menuju Tawangmangu, setelah melewati rentetan rumah makan di daerah Karangpandan, belok ke kiri saat melihat gerbang masuk lumayan besar bertuliskan “Kawasan Wisata Candi Sukuh Cetho”. Dari gerbang masuk kurang lebih menempuh perjalanan 30 menit untuk menuju candi pertama, yaitu Candi Sukuh.
Candi Sukuh merupakan kompleks candi Hindu yang memiliki bentuk lain dari kebanyakan candi Hindu yang tersebar di Indonesia. Bentuk dari candi yang terletak di desa Sukuh ini menyerupai piramida peninggalan Suku Maya di Inca. Bahan dasar bangunan candi terbuat dari batu andesit yang berwarna agak kemerahan ini masih terawat dan terjaga. Apabila ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah Candi Sukuh jangan khawatir, bisa menggunakan bantuan guide yang ada di loket pembayaran tiket masuk. Kalau mau cari cara murah bisa klik wikepedia untuk mendapatkan informasi tentang sejarah singkatnya, hehe…
Saat pertama kali mengunjungi Candi Sukuh kesan pertama saya adalah jantung berdegup kencang melihat relief yang sedikit terlihat seram bagi saya. Kebanyakan relief candi di Jawa menceritakan tentang filosofi hidup atau sejarah wayang yang dilukis dengan bentuk pahatan batu yang terlihat jelas. Lain cerita dengan Candi Sukuh yang banyak ( maaf ) menunjukkan alat kelamin di beberapa reliefnya, sanggul yang lebih terlihat seperti helm Alien, dan beberapa gambaran seram lain #abaikan. Udara dingin dan cuaca yang cenderung berkabut di lereng Gunung Lawu membuat atmosfir semakin membuat bulu kuduk berdiri. Yahh ini hanya pandangan saya yang agak sensitif terhadap hal mistis, namun dari semua mitos yang berhembus membuat Candi Sukuh semakin layak dikunjungi apabila singgah di Solo dan Tawangmangu.