expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 28 Januari 2015

Mainan Baik untuk Anak

Mainan baik untuk Anak
Pernahkah menyadari, ada yang namanya ‘bermain’, ‘mainan’, ‘permainan’? hayo apa bedanya? Bukan hanya dari sisi bahasa indonesia aja nih.
Bermain (play) adalah kegiatannya, ketika anak memainkan sesuatu. Contoh anak bermain mainan lilin malam dan membuat beberapa bentuk. Mainan (toy) adalah alatnya, barang-barang yang dimainkan. Contohnya si lilin malam tadi. Bisa berupa benda apapun sih. Permainan (game), aktivitas yang diciptakan untuk bermain, biasanya sih mengandung kompetisi dan aturan-aturan tertentu, misalnya permainan petak-umpet.
Anak suka membanting/merusak sesuatu?
Mungkin ia sedang bermain ‘menghancurkan’. Ini mungkin menyebalkan orang tua, tapi ada manfaatnya! Manfaat ‘menghancurkan’ adalah anak belajar bahwa ia mampu mengendalikan lingkungannya, bukan hanya diatur orangtua saja. Dengan menghancurkan mainan, anak tahu bahwa tidak ada yang abadi, tapi walaupun hancur, sesuatu bisa dibuat kembali, bahkan lebh baik. Tentu saja ini jika orangtua membantu anak, perbaiki yang dihancurkan. Dengan menghancurkan, anak melampiaskan ketegangan/stresnya, sehingga tak rugikan kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, kalau tidak ingin benda-benda penting juga rusak gara-gara anak ‘menghancurkan’, sebaiknya sembunyikan barang-barang itu supaya tidak jadi mainan. Saya selalu senang menganjurkan anak balita bermain aktif bertujuan, yang gunakan seluruh lengan dan kaki. Bikin sehat & pinter lho! Agar manfaat optimal, mainan juga harus sesuai dengan tingkat perkembangan. Biasanya di kemasan ada label usianya. Sesuaikan dengan usia anak. Sebetulnya kalau dibilang ‘tingkat perkembangan’, kita nggak Cuma ngobrolin usia sih, ada banyak hal lain. Kapan-kapan deh kita obrolin komplit. Sederhananya, mainan untuk anak lebih kecil harus lebih sederhana, sementara untuk anak besar semakin kompleks/rumit, tantangan disesuaikan.
Berikut ini adalah beberapa contoh mainan untuk tingkatkan bermacam aspek tumbuh kembangnya. Contoh-contoh disini adalah mainan non elektronik ya. Saya bahas berikut ini manfaat mainan untuk tiap aspek perkembangan, apa contohnya, juga gimana biar memainkannya jadi lebih bermanfaat.
1.      Mainan bermanfaat untuk FISIK, tingkat koordinasi motorik kasar (gunakan lengan & kaki) & halus (gunakan jari), dasar segala kecerdasan. Mainan motorik kasar, misalnya perosotan, ayunan, papan titian, dll. Mainan motorik halus, misalnya lilin malam, tali + manik-manik, puzzle, biji-bijian, dll. Supaya mainan lebih bermanfaat buat fisik, ciptakan permainan seperti lempar-tangkap, jalan/lari/lompat ke tempat tertentu, guling-guling, panjat-panjat, dll.
2.      Mainan bermanfaat untuk perkembangan KOGNITIF, konsentrasi, kenal, bentuk/warna/angka, kreativitas, pemecahan masalah, dll. Mainan untuk perkembangan kognitif, misalnya huruf-hurufan, puzzle angka, lego, balok berbagai bentuk, kartu memory game, mainan papan, timbangan, dll. Yang dimaksud mainan papan/beard game itu mainan seperti ular tangga, catur, monopoli, ludo, halma, dll. Tingkatkan strategi thinking. Supaya mainan lebih bermanfaat untuk perkembangan kognitif, buat anak berpikis. Misalnya mana yang lebih besar/kecil, duluan/belakangan, apa bedanya, dll.
3.      Mainan bermanfaat untuk perkembangan BAHASA, tambah kosa kata, struktur kalimat, kelancaran bicara, kelancaran ekspresi lewat bahasa, dll. Mainan untuk perkembangan bahasa, misalnya boneka, mainan pura-pura (dapur-dapuran, gelas-gelas kecil untuk tamu, alat dokter-dokteran, dll), kartu-kartu huruf/kata, dll. Supaya mainan lebih bermanfaat untuk perkembangan bahasa, anak bisa diajak bicara bergantian sambil bermain. Berikan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab anak.
4.      Mainan bermanfaat untuk perkembangan EMOSI: kenali lepaskan-kendalikan emosi positif & negatif, tingkatkan PD, kemandirian, ketekunan, dll. Mainan untuk perkembangan emosi misalnya boneka jari, boneka/robot berbagai tokoh, bongkar pasang, mainan-mainan fisik untuk lepaskan emosi, dll. Supaya mainan lebh bermanfaat untuk perkembangan emosi, seimbangkan antara anak bermain sendiri dan bermain bersama orang lain, jangan paksa belajar.
5.      Mainan bermanfaat untuk perkembangan SOSIAL: belajar berinteraksi, sopan santun, negosiasi, persuasi, membaca emosi teman, memotivasi, dll. Mainan untuk perkembangan sosial, misalnya permainan-permainan papan atau mainan apapun yang dimainkan dengan orang lain (anak lain/orangtua). Supaya mainan lebih bermanfaat untuk perkembangan sosial, maka orangtua bisa dampingi ketika anak hadapi masalah dengan teman, tapi gak bantu total. Contohnya ketika bertengkar rebutan mainan, orang tua bisa tanya ini tadi siaya yang pegang pertama, kenapa kok direbut, adakah mainan lain, dll.
Mainan yang aman seperti apa?
Tentu beda untuk tiap usia. Secara umum, untuk anak kecil, mainan kudu cukup besar (tidak bisa masuk mulut terlalu dalam), cat tidak mudah luntur, tidak ada bagian-bagian yang mudah lepas. Contoh mainan bahaya buat 0-2 tahun: lego/balok kecil, lilin malam, tongkatnya balon (mudah lepas, jika dimainkan bisa kena mata, kalau masuk mulut bisa dalam), kereta bertali (talinya bisa sandung anak).

Mainan edukatif sesuai usia yuk.
Singkat saja ya. Untuk 0-6 bulan carikan boneka lembut hitam putih, bunyi-bunyian. Mainan untuk 6-12 bulan carikan kaca yang pantulkan bayangannya, boneka lembut, warna-warni, bola besar, lorong-lorong untuk merangkak, gigit-gigitan, dll. Mainan untuk 1 tahun, misalnya pinggiran tembok untuk belajar jalan, boneka binatang, bola mainan-mainan untuk dibanting/lempar & gigit (butuh banget tuh, hehhehe). Mainan untuk 2-3 tahun , misalnya sepeda roda, mobil-mobilan yang bisa dinaiki, finger paint, ayunan, perosotan, guling-gulingan, mainan-mainan untuk dibanting & lempar. Mainan 4-6 tahun, misalnya puzzle, menjahit, meronce, menara, maze/labirin, buku-buku, ayunan, sepeda, balok, bentuk-bentuk geometri, lego, lilin malam, dll. Mainan 7-9 tahun, misalnya sepeda roda 2, bola segala ukuran, kelerang, lompat tali, lego/ balok kecil, menganyam, gunting-tempel, dll. Inget nih, supaya mainan betul-betul bermanfaat, maka yang penting orangtua harus ciptakan permainan-permainan kreatif. Berikut beberapa contoh kreatif bermain,
1)      Mobil-mobilan, coba ajak anak melewati garis-garis ubin (hanya berjalan di garis), anak bisa paham bahwa mobil tidak bisa belok dengan patah 900.
2)      Boneka/robot, ajak anak mengemukakan pikiran/perasaannya, misalnya boneka A ungkapkan ketidaksukaan karena robot B rebut mainannya.
3)      Boneka/robot, ajak anak menyelesaikan masalah antara boneka A & robot B itu, agar anak mendapat referensi cara selesaikan konflik 2 pihak.
4)      Lilin malam, dari bentuk silinder & bulat, coba gabungkan jadi bentuk-bentuk binatang/makanan/mainan lagi, tidak usah pakai cetakan.
5)      Bola bisa dibentuk dari lilin malam, robekan kertas koran, tisu digulungm dll. Lempar, tangkap, gelinding, sentil, tiup, tendang, warnai.
Jadi nggak ada lagi harusnya keluhan anak ‘kurang mainan’ kalau orangtuanya bisa kreatif ciptakan permainan. Anak bisa bermain asyik dech. Semoga tulisan ini berguna, bisa jadi pedoman buat cari mainan. Selamat bermain!



Sumber: @AnnaSurtiNina

Perkembangan Bahasa

Perkembangan Bahasa dan Stimulasinya
Sebetulnya kalau kita bicara tentang perkembangan bahasa, kita bicara tentang perkembangan bicara, pendengaran, pemahaman bahasa secara umum, juga kecerdasannya. Setiap perkembangan bahasa tadi bisa dipilah-pilah tiap tahap usia, misalnya 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-9 bulan, 9-12 bulan, 1.5-2 tahun, 2-3 tahun, 3-4 tahun, dst. Secara garis besar aja ya kita bahas perkembangan bahasa. Ketika baru lahir, bayi kan ‘nangis doang’. Perhatikan, bunyi tangisnya beda-beda artinya lho. Sekitar usia 2 bulan, biasanya bayi lakukan cooing, yaitu belajar mengucapkan huruf vokal, misalnya aaaa atau uuuuu. Sekitar 6 bulan, biasanya bayi lakukan babbling, yaitu belajar mengucapkan vokal plus konsonan, misalnya bababababa atau mamamama. Sekitar 8-10 bulan, babbling bayi ada kombinasi konsonannya, misalnya badabadabada atau dagadagadaga. Mendekat usia 1 tahun semakin banyak kata yang dipahami anak, sehingga anak mengikuti intruksi sederhana, misal diminta ambil barang tertentu. Sekitar 1-1.5 tahun, kita menunggu kata pertamanya muncul. Kata pertama bisa berupa mama/papa, bisa juga mainan favorit, atau apapun. Kata pertama adalah kata utuh, cukup jelas apa yang dimaksud. Misalnya bilang ‘bola’, ya memang artinya bola, atau’mama’ itu memanggil mama.
Perkembangan bahasa awal, kurang dari 1 tahun, perlu diingat-ingat oleh orang tua. Jika kelak ada masalah, biasanya perkembangan ini dicek, misalnya kapan cooing & babbling. Contoh masalah, jika usia 1.5 tahun/ 18 bulan belum menyebut kata pertama, buruan bikin janji ke klinik tumbuh kembang. Kenapa? Apabila ada keterlambatan, dapat segera dicek apakah masalah tumbuh kembang atau karena situasi bahasa yang kurang tepat. Biasanya kalau ada masalah keterlambatan, akan ditanya dulu kapan anak dulu cooing & babbling, apakah ada ucapan mirip kata yang muncul. Sekitar 1-1.5 tahun, diharapkan kata pertamanya muncul. Sekitar 1.5-2 tahun, biasanya ada ‘ledakan bahasa’, tau-tau anak bisa ngomong macem-macem kata yang pernah dia dengar sebelumnya. Sekitar 2-3 tahun, kita harapkan anak ucapkan kalimat 2 kata, misalnya, “Mama minum”, maksudnya “ Mama, aku mau minta minum.” Sekitar 3-4 tahun, kita harapkan kalimat-kalimatnya sudah lebih panjang, misalnya 3-5 kata. Mulai banyak bertanya. 90% ucapan sudah jelas buat orang lain. Sekitar 4-5 tahun, seluruh ucapan sudah jelas, sudah bisa bercerita, bertanya dengan berbagai kata tanya (apa, siapa, kenapa, gimana, dll). Skitar 5-6 tahun, mampu mendefinisikan kata-kata yang digunakannya sehari-hari (misalnya, sendok = untuk makan), paham perasaan & lawan kata. Sekitar 6-7 tahun, sudah bisa menceritakan humor, ketika dibacakan cerita ia bisa menjawab pertanyaan yang ada di bacaan. Semakin besar, kemampuan bahasa semakin kompleks. Pedoman paling sederhana adalah dia punya nilai baik dalam pelajaran bahasa. Pedoman lain, seberapa baik anak dalam menyampaikan pikiran & perasaannya kepada orang lain, juga menangkap maksud orang lain.
Nah, sekarang gimana stimulasi bahasa. Tentunya, karena kemampuan tiap usia berbeda, maka stimulasinya  berbeda juga, tapi ada pedoman umumnya. Pedoman garis besar, anak kurang dari 1 tahun, banyak-banyaklah bicara kepada anak lebih banyak ditanya, bukan sekadar diberitahu. Bicara kepada anak itu bisa lewat ngajak ngobrol biasa, nyanyi, mendongeng, talk-out-loud, dll. Usahakan dalam 1 kalimat, gunakan 1 bahasa aja. Boleh bahasa apapun sih, tapi 1 bahasa dalam 1 kalimat, jangan campur lebih dari 1 bahasa. Saya pernah mendengar kayak gini nih,  “Ini car, warnanya yellow.” Nah lho, anaknya bisa kesulitan nangkep struktur bahasa tuh.
Boleh lebih dari 1 bahasa?
Kalau perkembangan sesuai tahapan, lebih aman untuk kenalkan lebih dari 1 bahasa, asal 1 kalimat 1 bahasa. Ada beberapa cara, yaitu: Cara 1) Papa selalu bicara ke anak dengan bahasa A, mama dengan bahasa B (nenek dengan bahasa C, si mbak dengan bahasa D, dst). Yang penting konsisten. Cara 2) Tempat berbeda, maka bahasa berbeda. Contoh di rumah bahasa A, di sekolah bahasa B, dst. Cara 3) Waktu berbeda, maka bahasa berbeda. Contoh hari Senin-Kamis bahasa A, Jumat-Minggu bahasa B. Mana cara yang dipilih, tentunya tergantung kondisi keluarga, juga yang dianggap paling nyaman. Kalau ada tahap perkembangan bahasa yang terlambat, ada baiknya fokus dulu satu bahasa, lebih aman. Kalau anak sudah kuasai, baru kenalkan bahasa berikut.
Pada anak bayi & batita, ketika bicara, gunakan kata-kata sederhana, kalimat pendek saja. Contoh, “Ayo Nak, ganti popok dulu. Popokmu basah.” Anak semakin besar, tentunya kalimat-kalimat kita juga perlu semakin panjang, pilihan kata juga semakin variatif, supaya perluas kosa katanya. Pilihan buku juga seperti itu. Pada batita gambar besar & kata-kata sedikit saja, lebih dari 3 tahun ada kalimat-kalimat, lebih dari 5 tahun ada cerita untuk dibacakan. Nah itu tadi stimulasi untuk perbanyak kosa kata. Tapi pada anak lebih dari 1 tahun, bukan hanya kita yang aktif bicara, anak kudu diajak bicara. Kurang pas kalau stimulasi anak lebih dari 1 tahun tetap hanya kita yang banyak bicara, karena usia >1 tahun perlu distimulasi kemampuan bicaranya. Gimana caranya?
Pada anak >1 tahun, ketika anak minta sesuatu, jangan diberi dulu, minta anak bilang dulu apa yang ia inginkan, kalau sudah usaha baru diberikan. Trik ini memang susah-susah gampang, karena anak biasanya marah. Tapi PENTING! Apalagi pada anak yang belum mau/bisa bicara. Contoh anak ingin ambil bola, peluk anak sambil pegang bolanya dalam jarak yang tak bisa ia jangkau. Katakan, “Bola. Coba bilang, bola.” Boleh lho anak digodain dulu biar tetep pingin ambil bola, tapi jangan diberi dulu. Nanti kalau ia sudah usaha, misalnya, “Boa,” baru diberi. Lama-lama tentunya kalimat yang diminta dari anak mesti semakin panjang dong. Misalnya, “Ma, tolong ambil bola,” baru diberi bolanya. Anak juga bisa diajak bernyanyi, diberi pertanyaan lalu anak diminta menjawab. Apapun, intinya anak diajak bicara.
Di usia batita, ketika anak ngomong agak jelas kayak apapun, mendingan kita tanggapi. Jangan didiemin ya. Biar mereka suka bicara.Kalau sudah bisa bicara kita kata, stimulasi bicara kalimat. Kalau sudah kalimat, stimulasi buat cerita. Intinya, tingkatkan kemampuannya. Kalau anak ngomongnya gak jelas terus, mesti gimana? Teknik ‘abaikan’ dicoba. Gimana caranya?
Ketika anak >3 tahun bicara tidak jelas, sebutkan kata-kata lain yang kita tahu bukan maksudnya, supaya anak berusaha untuk katakan dengan lebih jelas. Bisa juga kita ajak anak duduk dipangku menghadap kita, lalu sambil bertatap mata (no gadget) ajak katakan kata-kata yang ingin dilatih. Semakin besar, bukan hanya tanya jawab, tapi juga  diskusi, artinya anak diajak mengemukakan pemdapat tentang sesuatu. Banyak kalimat panjang. Semoga kalau sudah dapat info-info tentang perkembangan bahasa dan stimulasinya, gak ada lagi nih anak yang telat banget perkembangan bahasanya ya. Kalaupun telat, bisa segera dipastikan penyebabnya, sehingga bisa segera ditangani dengan cara yang paling tepat.


Sumber: @AnnaSurtiNina


Waspada, Takut pisah bisa menjadi Separation Anxiety Disorder (SAD)

SAD: Separation Anxiety Disorder (Takut Pisah)
Kalau bayi sih wajar banget nempel sama mama. Tapi semakin besar seorang anak, mestinya sih lebih berani pisah dari mama. Walaupun begitu, ada juga kok anak-anak yang gak berani berjauhan sama orang tuanya. Yuk kita bahas di takut pisah
Kapan sih takut pisah dianggap normal? Biasa muncul di sekitar usia 6  bulan, normal sampai sekitar usia 5 tahun. Jika diatas usia 5 tahun masih terus takut pisah, bahkan menolak melakukan berbagai hal, tak mau sekolah karena tak mau pisah dari orang tua, maka itu mungkin jenis takut pisah yang berlebihan, dan bahkan meungkin mengalami  “separation anxiety disorder”. Belum tentu sih, tapi coba cek. Pada beberapa bagian tulisan ini, sesekali “separation anxiety disorder” disingkat dengan SAD.
Biasanya anak takut pisah dengan orangtuanya, secara khusus mamanya. Ada juga anak yang takut pisah dengan pengasuh, nenek, dll. Orang yang menjadi obyek takut pisah anak sering kita sebut sebagai “major attachment figure” atau mudahnya kita sebut dengan figur terdekat.
Tidak semua takut pisah adalah “separation anxiety disorder”. Apa beda takut pisah  normal dengan SAD?
Pertama, bedanya pasti di usia. Anak balita sih masih wajar takut pisah dengan orangtua. Tapi anak yang udah SD/SMP? Mungkin itu SAD. takut pisah mungkin alami SAD jika:
1)      Cemas berlebihan bahwa akaan terjadi sesuatu yang buruk pada figur terdekatnya.
2)      Cemas berlebihan jika suatu kejadian membuat terpisah permanen, dan gara-gara terlalu cemas jadi maunya nempel terus ke figur terdekat.
3)      Sering mimpi buruk, dengan tema-tema perpisahan. Contoh mimpi anak burung terpisah dari mama burung.
4)      Menolak pergi ke sekolah dengan banyak alasan, melakukan apapun supaya bisa tetap di rumah, atau supaya dekat dengan figur terdekatnya.
5)      Kadang anak alami sulit tidur, saking takut pisahnya dengan figur terdekat, takut sendirian, dan takut dengan mimpi buruknya. Jika figur terdekat sedang pergi, anak mungkin menolak tidur, bela-belain nungguin walaupun ngentuk berat. Menolak tidur juga ketika jauh dari rumah. Jika sampai tertidur, mungkin mengalami ngompol.
6)      Ada keluhan fisik seperti pusing, sakit perut, sakit di dada, gemetar, mual, dll. Keluhan terjadi sebelum & setelah berpisah.
7)      Anak berusaha terus bersama figur terdekat, menolak sendirian, menolak sekolah/ikut macam-macam kegiatan, takut situasi baru.
Semua kecemasan berlebihan di atas tak hanya membuat anak takut pisah, tapi juga berusaha jadi pelindung buat figur terdekat. Anak mungkin menghalangi figur terdekat melakukan beberapa kegiatan atau bertemu beberapa orang karena terlalu takut ada kejadian buruk menimpa. Akibatnya figur terdekat jadi sulit beraktivitas karena terus ‘ditempel’ anak takut pisah SAD. Anak sendiri sebetulnya tak suka, tapi tak berdaya. Untuk menghindari pisah, anak takut pisah yang SAD bisa berteriak-teriak, tantrum, menangis, bahkan mengancam bunuh diri jika ditinggal / pisah. Biasanya orangtua anak takut pisah  SAD jadi amat sangat stres, karena terus-terusan diikuti, anak terlihat beda dengan oranglain, juga karena ancaman-ancaman anak. Saya sempat ketemu juga anak-anak yang SAD & sampai alami serangan panik: sesak napas, pusing, mual, terasa panas gara-gara takut pisah berlebihan.
Mengapa anak bisa takut pisah SAD? Kadang karena ada keluarga yang alami gangguan kecemasan, atau pola asuh yang kurang tepat. Kalau sekadar takut pisah biasa, trik-trik berikut bisa membantu:
1)      Usahakan situasi (pengasuh & rumah) tetap, tidak ganti-ganti, supaya anak merasa aman.
2)      Jika harus berpisah, jadwalkan pada saat anak cukup makan dan tidur. Misalnya setelah bangun tidur/ setelah makan. Anak yang lapar dan mengantuk jauh lebih rewel dan takut pisah dibandingkan anak yang sudah cukup makan dan cukup tidur.
3)      Jika berpisah, pastikan anak bersama orang yang dipercaya orangtua. Biarkan anak beradaptasi & merasa nyaman dulu dengan orang tersebut.
4)      Jika berpisah, orangtua pamit, lalu secara terbuka dadah-dadah dan tersenyum dan pergilah. Jangan ngumpet-ngumpet walaupun anak nangis. Kalau orangtua ngumpet demi anak tidak menangis, anak akan tambah takut pisah & maunya nempel karena tak percaya bahwa orangtuanya akan kembali. Semakin sering anak membuktikan  bahwa setelah berpish ia akan baik-baik saja, maka ia tak lagi takut pisah. Maka seringlah berlatih.
5)      Anak menangis keras bahkan memberontak ketika berpisah? Pastikan pengasuh pegang erat-erat, orangtua tetaplah pergi. Jika orangtua menyerah dan akhirnya mengajak anak, anak akan tahu bahwa orangtuanya akan mengajaknya kalau ia memberontak. Ia tambah takut pisah
6)      Bikin roleplay (bermain pura-pura) dengan skenario berpisah. Misalnya, boneka harus dadah-dadah ke mama & mama terlihat oke-oke aja.
7)      Kurangi film serem, kurangi menonton TV apalagi yang mungkin menakutkan bagi anak.
8)      Jangan melabel anak sebagai ‘penakut’ atau ‘maunya nempel mama’. Doa tesebut akan membuat anak semakin takut pisah. Sebaliknya yakinkan anak bahwa ia anak yang berani. Tentunya nggak usah berlebihan ketika menyakinkan anak.
9)      Penuhi janji Anda. Misalnya janji pulang jam 5 sore, usahakan sekuatnya agar pulang selambatnya jam 5.
Trik-trik tadi jika dilakukan konsisten akan membantu anak-anak takut pisah normal. Tapi jika anak alami SAD, mungkin trik tadi belum cukup. Walaupun belum cukup, trik-trik tadi tetap harus dilakukan untuk membanu anak takut pisah bisa berpisah dengan lega hati. Ingat, anak takut pisah yang sampai alami SAD usianya sudah cukup besar. Misalnya kelas 1 SD bahkan lebih tua. Jadi trik –trik berikut banyak gunakan diskusi.
a)      Coba pahami betul-betul bahwa anak memang betul-betul takut & cemas, bukan dibuat-buat. Berempatilah kepadanya.
b)      Ajak anak membicarakan kecemasannya, apa yang ia cemasukan, apa ketakutan terbesarnya jika berpisah dengan orangtua. Kalau anak disuruh ‘jangan pikirkan takutnya’, kadang justru tambah kesulitan dan akhinya malah tambah takut pisah.
c)      Usahakan ada rutinitas yang jelas sehari-hari. Jika ada perubahan, usahakan bicarakan dulu sebelumnya jangan tiba-tiba berubah.
d)     Beri batasan yang jelas. Contoh, ketika mama mandi, anak betul-betul harus di luar kamar mandi, tak boleh ikut masuk.
e)      Berikan pilihan, Misalnya jika pergi sama mama maka tak beli apapun, tapi jika pergi dengan tante bisa jajan makanan favoritnya.
f)       Walaupun orangtua sudah dia akan menjerit-jerit ketika pisah, tetap usahakan tenang & yakin bahwa anak bisa pisah. Jika orangtua justru tak yakin dan ikut cemas, anak akan merasakan kecemasan tersebut & tambah takut pisah SAD.
g)      Jika tanpa sengaja anak berpisah sebentar & oke-oke saja, sampaikan penghargaan dan pujian orangtua.
h)      Carikan kegiatan-kegiatan yang anak sukai, dan dorong anak untuk menikmati kegiatan tersebut. Carikan teman-teman yang cocok dengan anak.
i)        Bolos sekolah? Esoknya segera masuk lagi, walaupun Cuma sebentar. Semakin lama anak bolos, semakin sulit masuk sekolah lagi.
j)        Kerjasama dengan guru, jangan sampai guru yang justru melabel anak sebagai penakut/malas sekolah. Sebaliknya guru bisa membantu anak agar senyaman mungkin berada di sekolah walapun telat/pulang cepat, sehingga berkurang rasa takut pisah.
k)      Bawakan ke sekolah: barang mama (agar anak bisa pegang ketika sedang cemas). Bisa juga tempelkan kertas di belakangnya ‘I Love You’
Jika sudah lakukan semua trik secara konsisten dan anak masih juga takut pisah SAD, ajak anak beberapa kali ke psikolog anak. Ada banyak jenis terapi psikologis untuk anak takut pisah  SAD, perlu dilakukan berulangkali sampai simptom  berkurang dratis.
Nah itu dia sedikit tulisan saya. Semoga membuka mata bahwa anak-anak yang takut pisah berlebihan & butuh penangan lebih intensif.


Sumber: @AnnaSurtiNina


Bukan Ngompol biasa,.... Enuresis

Enuresis, Bukan Ngompol biasa...
Ngompo itu dianggap normal sampai usia berapa sih?
Umumnya masih oke sampai 5 tahun. Di atas usia itu, mungkin enuresis.
Enuresis termasuk dalam gangguan eliminasi (pengeluaran sisa tubuh). Enuresis=ngompol, Encopresis=kecipirit (BAB tidak pada tempatnya). Ngompol disebut enureisis, jika terjadi pada anak >5 tahun, minimal 2x seminggu dalam 3 bulan berturut-turut, sampai-sampai anak alami masalah sosial/akademis. Kalau ngompol hanya 1X per bulan, tidak disebut enureisis. Juga kalau ngompol karena anak kedinginan/stres, tapi amat jarang, bukan enuresis juga. Kalau ngompol untuk anak di bawah 5 tahun, mau sesering apapun ya ngak disebut enuresis. Juga kalau anak ngompol gara-gara obat tertentu, bukan enuresis. Ada 3 jenis ngompol/enuresis:
1.      Nocturnal only (Hanya malam hari, yang paling sering terjadi pada anak-anak)
2.      Diurnal only (Hanya siang hari, seringnya di hari sekolah)
3.      Kombinasi, malam dan siang hari
Prevalensi ngompol enuresis: 5 tahun= 13-33%. 10 tahun= 3% laki-laki & 2% perempuan. Remaja= sekitar 1%. Diurnal enuresis > jarang = 3 % anak 6 tahun. Ada juga sih yang alami enuresis sekunder, artinya sudah berhasil tidak ngompol, selalu pipis di toilet, lalu kembali ngompol setelah usia 5 tahun. Sebagian besar anak ngompol di atas 5 tahun alami enuresis primer, artinya masih terus ngompol sejak bayi, belum berhasil atur tidak ngompol. Kadang anak-anak enuresis sekunder karena alami stres besar, misalnya baru punya adik, pindah rumah, binatang peliharaan mati, orangtua cerai, dll.
Apa sih efeknya kalau anak ngompol padahal sudah besar (enuresis)?
Seringkali anak alami ejekan dari teman, dijauhi/diasingkan teman. Anak enuresis sangat mungkin menolak menginap di rumah orang lain, menolak berlibur atau camping dengan teman sekolah, takut ngompol. Padahal semakin besar, kebutuhan anak untuk berteman semakin tinggi pula. Kegagalan berteman berpengaruh terhadap emosi anak. Pengaruh ngompol enuresis terhadap emosi anak adalah self esteem alias penghargaan terhadap diri jadi cenderung rendah, jadi kurang percaya diri. Self esteem rendah & kurang PD kadang bikin anak alami masalah-masalah lain misalnya masalah akademis, jadi kesulitan belajar di sekolah. Belum lagi orang tua kadang menghukum, memarahi dan mempermalukan anak ngompol enuresis, bukannya membantu. Keluhan tambah berat jadinya. Salah satu resiko terbesar kalau anak ngompol enuresis, anak mengalami KDRT oleh orang tua, karena orang tua frustasu. Efek negatif meluas jadinya.
Kenapa anak mengalami ngompol enuresis?
Dari segi medis, ada kekurangan hormon antidiuretik (yang tugasnya hambat produksi air seni malam hari). Sebab lain ngompol enuresis, karena anak belum sadar kapan kandung kemih penuh. Mestinya sih begitu kandung kemih penuh, langsung ada impuls saraf yang mengirim sinyal ke otak memberi tahu anak agar segera buang air kecil. Jika belum kenali ini, bisa ngompol enuresis. Sinyal itu yang membuat anak berpikir/mimpi tentang BAK, dan akhirnya membuat anak bangun & ke toilet. Jika tidak kenali sinyal bisa ngompol. Sebab lain ngompol enuresis adalah turunan. Jika kedua orangtua enuresis, 77% kemungkinan anak juga alami. Salah satu orang tua, 44%. Tidak ada orangtua, 15%.
Nah, kalau anak ngompol enuresis, orangtua bisa apa ya?
Kabarnya obat kurang efektif, karena setelah pemberian obat selesai, anak ngompol lagi. Sejauh ini, menurut penelitian-penelitian tentang enuresis, pendekatan psikologis justru lebih ampuh untuk bikin anak tak ngompol lagi. Seperti apa? Yang pasti sih justru kurangi hukuman, apalagi hukuman tidak relevan (misalnya disuruh nulis 100X ‘Saya tidak akan ngompol lagi’). Masih boleh kok beri konsekuensi yang relevan, misalnya jika anak ngompol enuresis, anak diminta mengganti seprai kotor (dengan sedikit sekali bantuan). Ketika memberi konsekuensi, anak tidak usah dimarah-marahin. Lakukan saja dengan tenang, namun tegas. Jika anak menolak maka boleh tahan dulu haknya  (misalnya tidak boleh nonton/main kalau belum ganti seprai), baru diberikan setelah ia ganti seprai. Nah, tadi saya sebut ada pendekatan-pendekatan psikologi yang efektif, apa saja itu? Yuk simak terus.
Cara 1, cek jam berapa biasanya anak ngompol. Misalnya jam 10 malam. Maka sesaat sebelum jam 10 malam, bangunkan anak untuk pipis di WC.
Cara 2, teknik token system. Anak dijanjikan token, misalnya stiker jika ‘kering’ sampai pagi.
Cara 3, malah sebelum tidur, bisikkan ‘Kalau terasa mau pipis, bangun, ke WC, buka celana, pipis di WC. Lalu tidur lagi.’ Memang capek sih orangtuanya. Siapa yang tidak capek kalau harus bangun berkali-kali tiap malam demi kurangi anak ngompol enuresis? Tapi perlu banget nih.
Untuk semua cara di atas, lakukan secara konsisten setiap hari. Biasanya dalam 1-3 minggu ngompol enuresis berkurang drastis. Sudah tentu pendekatan itu tetap perlu dilakukan terus sampai betul-betul punya kebiasaan baru: pipis, tidak ngompol enuresis. Kalau kebiasaan baru sudah terbentuk, tak lagi ngompol enuresis, maka sedikit-sedikit kurangi pendekatan tadi, tapi tetap hangat ke anak ya. Kalau belum juga berkurang, mungkin ada masalah lain yang tidak terdeteksi orang tua. Ajak anak ke psikologi anak untuk penangan ngompol enuresis. Orang tua ikutan konsultasi lho, karena orang tua yang paling mampu untuk bantu anaknya kurangi ngompol enuresis. Nah. Itu dulu ya tulisan kali ini. Semoga berguna ya.


Sumber: @AnnaSurtiNina


Tips Membuat Resolusi

Tips Membuat Resolusi
Daripada cari-cari kesalahan, gimana kalau kita fokus aja tentang cara bikin resolusi yang bener-bener berhasil mengubah diri? Cek tips yang paling sesuai:
1)      1-2 tujuan saja, daripada banyak tapi tidak ada yang tercapai. Ini supaya energi kita fokus untuk perbaikan diri yang diharapkan. Kalau sudah terbiasa bikin resolusi & sudah terbiasa menaatinya, tentu saja bisa lebih banyak lagi jumlahnya. Kalau belum pernah berhasil, 1-2 dulu.
2)      Pikirkan apa kesenangan yang muncul jika tujuan tercapai. Misalnya dengan tubuh lebih sehat, bisa jadi orangtua lebih seru. Buat resolusi sebagai sesuatu yang menyenangkan, dibandingkan memandangnya sebagai hukuman buat diri sendiri.
3)      Spesifik. Jangan Cuma bilang ‘mau hidup lebih sehat’, tapi sebut apa yang lebih sehat.  Misalnya setiap hari makan 3 porsi sayur. Kalau resolusi terlalu general, nanti malah bingung gimana cara memenuhinya, dan akhirnya malah tidak terpenuhi.
4)      Dapat diukur. Jangan hanya bilang ‘nurunin berat badan’, tapi sebut berapa banyak, misalnya berat badan berkurang 5 kg. Contoh ukuran lain: setiap hari bermain bersama anak tanpa memegang gadget minimal 30 menit. Ukuran yang jelas memudahkan resolusi tercapai.
5)      Dapat dicapai, artinya cukup tinggi targetnya, namun tidak terlalu tinggi sampai-sampai sulit dicapai. Jika terlalu sulit dicapai biasanya malah gagal, karena kita lebih frustasi. Contoh dari ‘perokok berat’ menuju ‘sama sekali tidak merokok dalam 1 bulan’ itu terlalu sulit. Akan jauh lebih baik kalau resolusi kita pecah-pecah lebih sederhana sehingga dapat dicapai. Contoh daripada bilang ‘lebih sering olehraga’, sementara sebelumnya tidak pernah, lebih pas kalau kita bilang ‘bulan januari-maret olehraga tiap hari sabtu, April-Juni tiap Rabu & Sabtu, dst’
6)      Pikirkan suatu tujuan yang betul-betul anda butuhkan, bukan ikut-ikutan teman/disuruh orang lain. Contoh teman-teman mungkin merasa anda perlu kuruskan badan, tapi bisa saja menurut Anda tahun 2015 lebih penting untuk bayar seluruh hutang. Pilih mana resolusi prioritas. Yang namanya resolusi prioritas itu juga bukanlah sesuatu yang tiba-tiba menarik perhatian, tapi memang sesuatu yang dipertimbangkan masak-masak, betul-betul perlu.
7)      Perjelas batas waktunya, misalnya berapa kali dalam 1 minggu, atau akan dicapai dalam berapa minggu, hari apa aja dilakukannya. Resolusi batas waktu juga bisa seperti ‘hanya makan cake berlemak tiap kali kumpul-kumpul dengan teman-teman’ (yang bukan setiap hari :p)
8)      Catat apa yang anda inginkan, bukan hanya diingat-ingat saja. Boleh disimpan di laptop/HP, atau ditempel di kulkas.
9)      Sampaikan kepada orang lain. Kalau disimpan buat diri sendiri, orang lain pun tidak tahu anda berhasil atau gagal. Namun kalau orang lain (keluarga/teman) tahu resolusi anda, mereka bisa mengingatkan anda ketika anda goyah dalam usaha mengubah diri. Anda bisa saja mengumumkan resolusi di media sosial, atau menunjukkan catatan anda kepada pasangan, atau pasang di dinding ruang kantor atau kamar tidur. Nantinya kalau orang lain mengingatkan anda, jangan mara ya. Anggaplah itu perhatian mereka gar resolusi anda berhasil dicapai.
10)  Berpikir positif. Jika ada kegagalan, tidak berarti seluruh usaha anda gagal, tapi kebiasaan baru belum terbentuk aja. Bagian ini penting banget nih, soalnya kalau kita menyakini ‘seluruhnya gagal’, kita cenderung malas mencoba lagi, akhirny resolusi betul-betul gagal. Contoh, resolusi kita ‘begitu sampai rumah langsung matikan HP supaya bisa main sama anak’, tapi suatu hari kerjaan begitu dahsyatnya sehingga Anda masih harus bekerja walaupun sudah sampai rumah. Tidak berarti resolusi gagal total, namun memang kondisinya sedang tidak memungkinkan aja.
11)  Jika rasanya terlalu banyak kegagalan, maka catatlah keberhasilan-keberhasilan anda sekecil apapun. Dengan mencatat dan membaca lagi keberhasilan, kita akan tahu bahwa diri kita cukup baik kok walaupun resolusi yang sedang dituju belum sepenuhnya tercapai. Saya juga senang mencatat & mencoret resolusi saya, sehingga secara langsung tahu bahwa ada perbaikan diri yang sudah saya lakukan.
12)  Gunakan seluruh indera untuk mengingatkan tujuan. Contoh pasang foto idola yang kurus kalau anda ingin langsingkan tubuh atau bau-bauan dari rempah-rempah favorit yang berasal dari daerah yang ingin anda kunjungi untuk liburan berikutnya.
13)  Tentukan mau mulai kapan. Bisa jadi tidak di tanggal 1 Januari, tapi misalnya di Maret karena ada proyek yang butuh konsentrasi dulu.
Btw, kita bisa mengajak anak-anak untuk buat resolusi juga lho. Tentunya mereka mesti cukup besar, misalnya sudah sekolah di SD. Tentu saja untuk mengajak anak, anda mesti memberi contoh bahwa anda membuat resolusi dan berhasil menaatinya. Dengan demikian, pada saat ‘jadwal untuk anak’, pada waktu tersebut saya ingat untuk tidak masukkan jadwal kerja/jadwal lainnya. Ohya, sekedar meningatkan keberhasilan untuk ‘beri lebih banyak waktu untuk anak’ dengna langsung taruh jadwal untuk anak di agenda saya. Nah, itu tapi tips-tips untuk membuat resolusi yang bisa berhasil. Semakin banyak yang dicoba, tingkat kemungkinan berhasil semakin tinggi. Semoga tips-tips resolusi bisa dicoba, biar bisa menjadi individu yang lebih baik lagi.
Sumber: @AnnaSurtiNina


Bedanya, Perempuan Laki-laki

Bedanya, Perempuan dan Laki-laki
Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang bedanya perempuan dan laki-laki menurut penelitian-penelitian yang dirangkum oleh Blakemore, Berenbaum & Liben (2009) “Gender Development”. Namanya juga hasil penelitian, bisa aja beda dengan kondisi Anda. Lha, namanya juga penelitian toh beda subyek bisa beda hasil, tapi bisa beri gambaran.
Kalau bicara tentang beda perempuan laki, kita bicara tentang biologis & perkembangan motorik, kognitif, juga beda PL sosial  kepribadian. Apa saja itu? Ayo kita bicara satu per satu.
Beda perempuan laki, biologis adalah perbedaan dari sisi fisik, tubuhnya. Apa aja beda biologis? Beda perempuan laki dari sisi biologis,
1.      Kromosom, kalau perempuan XX, laki YY
2.      Hormon, perempuan lebih banyak estrogen, laki lebih banyak testosteron
3.      Alat kelamin, laki-laki = penis, perempuan= vagina
4.      Pertumbuhan tinggi & berat, laki lebih cepat daripada perempuan
5.      Usia mulainya pubertas, perempuan menstruasi lebih dini dibandingkan laki-laki mulai mimpi basah
Gimana dengan kemmapuan motoriknya? Laki-laki lebih tinggi kemampuan motorik kasarnya, sementara perempuan kemampuan motorik halus. Kemampuan motorik kasar adalah yang menggunakan kaki & tangan. Misalnya lari, lompat, manjat, berenang, dll. Kemampuan motorik halus adalah yang menggunakan jari-jari. Misalnya mewarnai, menjahit, meronce, main piano, dll. Walaupun ada perbedaan kemampuan motorik kasar & halus secara umum, anak perempuan & laki-laki harus distimulasi untuk semuanya ya. Nah kalau itu tadi kita bahas beda perempuan laki-laki dari segi biologis, sekarang kita bahas bedanya dari segi kognitif (kemampuan berfikir) yuk. Beda perempuan laki-laki dari sisi Kognitif,
1.      Kecerdasan. Siapa kira-kira yang IQ-nya lebih tinggi? Ternyata IQ perempuan sama tingginya kok dengan IQ laki-laki.
2.      Daya Ingat. Siapa yang memorinya lebih bagus? Ternyata perempuan, karena perempuan suka memperhatikan secara detil
3.      Ketrampilan bahasa. Siapa yang lebih trampil berbahasa? Soal bicara, relatif sama. Tapi soal menulis, perempuan terbukti lebih oke. Lebih okenya kayak gimana? Lebih rapi tulisannya. Soal isi tulisannya sih sama aja bagusnya. Beda perempuan laki, Anak laki-laki lebih banyak alami gagap & disleksi/kesulitan membaca daripada perempuan. Coba tebak, siapa yang lebih cerewet? Ternyata jumlah kata per hari yang diucapkan perempuan dan laki-laki sebetulnya setara, perempuan tidak lebih cerewet kok :D
4.      Kemampuan spasial, alias pemahaman jarak, bentuk, termasuk baca peta. Ketebak laki-laki lebih jago daripada perempuan.
5.      Kemampuan matematikanya gimana? Ternyata secara umum sama pintarnya lho perempuan & laki-laki dalam matematika.
Nah, tadi perbedaan perempuan dan laki-laki dari sisi kognitif. Sekarang gimana bedanya dalam emosi, perilaku dan kepribadian. Yuk cek truss.. beda perempuan dan laki-laki dari sisi Emosi,
1.      Ekspresi, kalau anak batita, ternyata sama aja tuh ekspresifnya baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Kalau udah lebih gede gmana? Ternyata anak laki-laki & laki-laki remaja & dewasa lebih jaim untuk ekspresikan takut dan sedih.
2.      Cara mengatasi stres. Siapa yang lebih mampu? Ternyata perempuan dan laki-laki sama-sama mampu kok, caranya aja yang beda. Perempuan biasanya atasi stres dengan curhat sama teman, sementara laki-laki dengan mengalihkan diri ke aktivitas lain. Kita bisa aja memaksakan cara kita mengatasi stres yang ternyata malah bikin stres nambah :D
3.      Merespon Emosi. Ketebak, perempuan cenderung lebih sensitif terhadap emosi orang lain sehingga bisa merespon lebih tepat.
4.      Memahami sudut pandang oranglain. Perempuan cenderung lebih baik, karena lebih sensitif terhadap perbedaan.
Beda perempuan dan laki-laki dari sisi Perilaku,
1.      Menolong. Siapa yang lebih suka menolong? Ternyata baik perempuan dan laki-laki sama suka menolong, Cuma beda caranya. Perempuan menolong secara emosional, misalnya dengan dengarkan curhat/memperhatikan; laki-laki dengan selamatkan dari berbagai kekerasan.
2.      Permainan fisik. Siapa yang lebih suka? Laki-laki tentunya, minatnya terhadap permainan yang gunakan kekuatan fisik lebih besar.
3.      Pengambilan resiko. Siapa yang lebih berani? Secara umum sih laki-laki lebih berani ambil resiko daripada perempuan.
4.      Agresif. Siapa yang lebih agresif? Laki-laki lebih agresif secara fisik & verbal, perempuan verbal misalnya gosipin teman.
5.      Kenakalan sampai kriminalitas. Siapa yang lebih banyak? Yup, anda benar laki-laki lebih sering terlibat daripada perempuan.
Beda perempuan dan laki-laki dari sisi Kepribadian
1.      Temperamen. Ada yang easy going, ada yang sulit, ada yang ‘lambat panas’. Ternyata perempuan & laki-laki relatif sama.
2.      Kepercayaan diri. Siapa yang lebih PD? Sama saja sih, tapi ketika berkaitan dengan tubuh, laki-laki lebih PD daripada perempuan.
3.      Gangguan psikologis. Siapa yang lebih banyak mengalami? Ternyata ada gangguan yang lebih banyak di alami perempuan, dan ada gangguan yang lebih banyak di alami laki-laki. Yang lebih banyak dialami perempuan, misalnya gangguan kecemasan, rett’s syndrome (sejenis autisme), gangguan makan seperti anoreksia/bulimia, gangguan depresi. Sementara itu yang lebih banyak di alami laki-laki, misalnya disabilitas intelektual/IQ sangat rendah, kesulitan membaca, gagap, autisme, ADHD, kenakalan.
Itulah bedanya perempuan dan laki-laki menurut penelitian-penelitian yang dirangkum oleh Blakemore, Berenbaum & Liben (2009) “Gender Development”. Namanya juga hasil penelitian, bisa aja beda dengan kondisi Anda. Lha, namanya juga penelitian toh beda subyek bisa beda hasil, tapi bisa beri gambaran. Semoga bermanfaat...


Sumber: @AnnaSurtiNina