expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 15 Juli 2015

'Kecelakaan' Bertamu

Kecelakaan Bertamu”
Sumber: @AnnaSurtiNina
Berkunjung ke kerabat kadang ada ‘kecelakaan’ seperti anak rewel, menumpahkan minuman, muntah, dll. Apa ya yang bisa kita lakukan ketika ada ‘kecelakan bertamu’ semacam itu? Bahas yuk.
Antisipasi umum sebelum bertamu untuk menghindari ‘kecelakaan bertamu’ adalah sudah bilang ke anak bahwa kita akan pergi ke sebutkan ke mana saja yang jelas, misalnya ke rumah eyang Bambang, lalu ke rumah om Joko. Kita bisa tunjukkan foto yang bersangkutan supaya kebayang. Bisa juga tunjukkan foto ketika bertamu di tahun sebelumnya, ketika anak masih kecil. Ceritakan juga apa aja yang akan dilakukan. Misalnya akan masuk rumah, salaman, ketemu tante ini itu, makan ketupat, ngobrol, terus pergi. Kalau perlu bikin simulasi. Bikin simulasi di rumah untuk latihan bertamu, sehingga anak bisa punya bayangan.
Jaga tubuh anak fit sebelum bertamu. Bawakan makanan minuman favorit, jika anak menolak makan atau makanan tak bisa dimakan anak, anda bisa berikan makanan itu. Bawakan juga mainan favorit, 2-3 buah. Jangan dikeluarkan sekaligus, tapi bisa diberikan satu per satu aja bergantian.  Dengan antisipasi dan tubuh anak fit, sebetulnya sih sudah lumayan terhindari dari ‘kecelakaan bertamu’, tapi tetap bisa terjadi. Pedoman umum ketika ada ‘kecelakaan bertamu’ adalah gak usah marah, gak perlu juga menghukum berlebihan. Banyak anak yang sudah malu walaupun tidak dimarahi, karena bentuk-bentuk reaksi orang lain. Artinya itu sudah jadi ‘hukuman’ buat anak.
Ketika anak sudah menangis atau terlihat menyesal gara-gara ‘kecelakaan’ itu, maka ya sudahlah, tenangkan saja tak usah pakai marah-marah. Jauhkan dulu dari area ‘kecelakaan’, apalagi kalau membahayakan. Misalnya lantai licin atau ada pecahan keramik. Periksa dulu keadaan anak, misalnya anak terliha shock atau ada luka, bisa juga bingung dan menangis keras. Mama dan papa dalam menanganinya tarik napas panjang dan senyum dulu, untuk menenangkan diri. Nah, penanganan secara khusus, yuk kita bahas per kasus berikut ini
1.    Anak menolak masuk ke rumah yang akan dikunjungi.
Sudah jauh-jauh bertandang, anak maunya hanya di depan rumah atau pagar saja. Sebetulnya ini bisa diantisipasi dengan bicara kepada anak sebelum berangkat, bilang bahwa nanti sesampai disana akan segera masuk. Begitu kejadian, pastinya segeralah dibujuk. Kalau tetap tidak mau, bilang dulu sama pemilik rumah bahwa anda akan ajak anak jalan-jalan sekitar dulu, nanti kembali lagi. Selama jalan-jalan, katakan kepada anak bahwa kita akan putar-putar dulu, tapi begitu sampai rumah tadi akan segera masuk. Bikin perjanjian gitu lho. Nah kalau sudah bikin perjanjian seperti itu, maka lakukan sesuai yang dijanjikan. Jadi kalaupun anak agak rewel, ya tetaplah masuk ke rumah tersebut. Kalau anak rewel terus, jangan lama-lama ya.
2.    Anak tak mau keluar dari kendaraan.
Maunya di kendaraan saja, biasanya terjadi ketika anak mengantuk berat. Antisipasinya adalah anak dipersilahkan tidur dulu sepanjang perjalanan. Nanti sekitar 5-10 menit (tergantung seberapa cepat anak ‘on’) sebelum sampai di tempat tujuan, anak dibangunkan, diingatkan akan segera tia dan akan amsuk ke rumah kerabat. Jika terlanjur, mama dan papa bisa ‘membelah diri’, misalnya mama masuk ke rumah kerabat dan papa menunggu anak di kendaraan. Perhatikan aliran udara dan suhu, jangan sampai anak terlalu kepanasan di kendaraan. Beberapa saat kemudian, anak dibangunkan lalu ajak masuk. Kalau anak masih kecil sekali bisa juga digendong saja, diajak jalan-jalan sekitar rumah keraat, baru diajak masuk.
3.    Anak tak mau salaman.
Intinya sih, santai aja, nggak usah paksa anak salaman. Bisa kok diajak main akrab dulu, baru belakangan salaman. Kalau sudah lebih nyaman buat anak, tentunya anak lebih mau salaman.
4.    Anak menumpahkan minuman.
Biasanya sih terjadi karena koordinasi motorik anak belum oke. Jadi gak usah dimarahi. Peluk anak. Minta maaf kepada pemilik rumah. Minta tolong pemilik rumah menunjukkan tempat tisu, sapu, pel. Lalu ajak anak mengambilnya dan mengajak membersihkan dengan bantuan kita. Ini lebih mudah kalau di rumah. Kalau tidak biasa, boleh dech orang tua aja yang membereskan. Bereskan dengan tenang tanpa mengomeli anak. Kapan boleh ngomel? Gak usah ngomel, tapi boleh ditegur sambil  beri nasehat sedikit pas kejadian. Kalau dirasa belum cukup, nanti setelah pulang bertamu bisa dilanjutkan lagi. Dirumah, latihan beresin lagi ya.
5.    Anak menyela pembicaraan.
Namanya juga anak-anak, sering            nggak sabar menunggu mama dan papa selesai bicara, mereka langsung menyela. Kalau orang tua langsung menjawab anak, maka anak tak belajar untuk menghargai orang tua yang sedang bicara, tak belajar menunggu. Jadi tetaplah mengobrol dengan kerabat, peluk/pangku anak atau tatap matanya tapi tetap dengan mengobrol dengan kerabat. Kita bisa berikan kode, misalnya kita menyentuh bibir kita dengan jari telunjuk. Kode ini akan lebih dipahami kalau pernah dicoba. Kalau pembicaraan bisa disela, permisi dulu ke kerabat, barulah menanggapi anak bicara dengan tenang, gak usah pakai marah-marah. Setelah menanggapi anak dengan singkat, kemudian ingatkan anak lagi bahwa mama atau papa ingin mengobrol lagi, lalu persilakan anak main lagi seperti semula. Ingatkan juga kalau mau bicara, bisik-bisik dulu ke mama atau papa, tidak langsung ditanggapi.
6.    Anak rewel terus.
Mungkin karena tubuhnya tidak nyaman (misalnya, karena lapar, mengantuk, sakit, ngompol, dll), atau karena bosan. Jika karena tubuhnya tidak nyaman, usahakan memenuhi kebutuhannya, jika mungkin. Misalnya kalau anak mengantuk, bisa pinjam ruangan atau kasur untuk menidurkan anak. Kalau tidak mungkin memenuhi kebutuhannya, misalnya karena itu bukan rumah kerabat dekat, segeralah akhiri kunjungan. Mohon maaf sebesarnya kepada pemilik rumah. Mereka juga perlu memahami ketidaknyamanan ini.
7.    Anak Tantrum alias mengamuk.
Biasanya sih ini diawali dengan kerewelan dulu, nggaakk langsung tantrum, jadi harusnya sudah bisa tertangani dengan trik untuk anak rewel. Tapi kalau kita berkunjung ke kerabat dekat yang perlu agak lama, atau ada acara berkumpul yang lebih resmi dan kita nggaak bisa segera pergi, kadang tak bisa dihindarkan anak menjadi tantrum. Ngertiin aja. Minta maaf dulu kepada pemilik rumah dan tamu-tamu lain. Tarik napas dalam dan lepaskan perlahan untuk menenangkan diri Anda dulu. Usahakan untuk menggendong anak, dan mengajaknya keluar ruangan atau keluar rumah dan berjalan-jalan dulu misalnya sekitar 15 menit. Kalau anak sudah lebih tenang, barulah kembali ke rumah itu lagi. Ohya sebelum kembali, buat dulu beberapa janji, misalnya bahwa nanti akan lagi kembali lagi ke rumah tersebut, akan bersenang-senang lagi dengan tamu-tamu yang ada. Usahakan sepositif mungkin bilangnya. Karena sedang di rumah orang lain, kemungkinan kita nggak bisa melakukan trik-trik yang biasa berhasil dilakukan di rumah. So, boleh juga memberikan sedikit sogokan, misalnya ada mainan baru yang kita bawakan, atau kita belikan sesuatu yang dia suka. Trik menyogok itu bener-bener trik di ujung tanduk ya, nggak boleh sering-sering dilakukan supaya gak kehilangan ‘ketajaman’nya. Pokoknya sebelum menyogok sudah pasti kudu dilakukan semua cara alternatif lain dulu. Jika setelah tantrum juga masih rewel terus, apa boleh buat, sepertinya anda harus lebih lama undur diri dari acara tersebut. Nnggaakk rela? Ya emang nnggaakk sih. Tapi ini bagian dari tanggung jawab kita sebagai orang tua, untuk dahulukan kepentingan anak daripada diri sendiri.
8.    Anak Muntah.
Biasanya karena sakit, bisa juga karena kenyang dan loncat-loncat seru. Segera mohon maaf kepada pemilik rumah dan tamu lain. Minta tolong ditunjukkan kamar mandi atau kamar agar bisa segera menggantikan baju anak (juga kita mungkin perlu ganti baju). Dahulukan kepentingan anak untuk bersihkan dan tenangkan, soal membersihkan lantai bisa belakangan atau dibantu orang lain. Bisa juga mama menggantikan baju sementara papa membersihkan muntah anak. Nah, kalau persediaan bajunya sudah abis gmana? Mau tak mau, pinjam baju dari pemilik rumah. Mohon maaf juga tentunya. Nantinya kalau sudah dicuci, bisa dikembalikan.
9.    Anak lari-lari atau kejar-kajaran.
Usahakan menangkap anak ketika berlari dekat kita, lalu bida dipangku dulu. Jika memang ada ruangan lain yang lebih aman (misalnya taman, pastikan aman),  maka arahakan agar anak-anak berlari-lari diruangan tersebut. Tapi kalau tak ada ruangan lain, dan banyak barang pecah belah berharga di rumah itu (misalnya guci, vas, toples mahal), maka mau yak mau Anda mengeluarkan mainan andalan dan mengajak anak bermain sambil bertamu. Kalau memang ada temannya, ajak temannya itu bermain sambil duduk dekat Anda. Keluarkan salah satu maianan andalan.
10.  Anak merusak barang pemilik rumah.
Ini salah satu mimpi buruk orang tua, tapi kadang terjadi. Segera pastikan anak tidak apa-apa (misalnya tidak terluka). Gendong anak agar terhindar dari pecahan barang, dan segeralah minta maaf kepda pemilik rumah. Papa dan mama bisa segera bagi tugas, misalnya mama menenangkan anak, sementara papa membereskan keberantakan yang terjadi. Usahakan menjanjikan untuk menggantikan barang tersebut, dan tepati janji Anda. Anak boleh ditegur sedikit disana, tapi janganlah orang tuanmarah-marah berlebihan. Nanti ketika sudah pulang, segera bahas kejadian tersebut, apa efeknya, jika perlu anak dihukum. Hukumannya yang relevan ya. Misalnya anak diminta mengambil tabungan untuk membeli barang yang harus diganti. Nantinya ketika mengembalikan barang, anak harus ikut, agar alami sendiri konsekuensi perbuatannya. Belajar bertanggung jawab.
11.  Anak Tidak Mau Pulang
Hihhihi, ini kadang kejadian lho. Anak terlalu betah di rumah kerabat dan tidak mau beranjak dari sana. Gunakan teknik jam dinding. Tunjukkan jam berjarum, tunjukkan angka sekitar 10-15 menit setelah waktu saat ini. Bilang bahwa kita akan pulang pada jarum jam tersebut, dan anak dipersilahkan main dulu sampai jam tersebut. Dekat-dekat waktu tersebut anak diingatkan lagi. Lalu di waktu yang ditentukan, anak bisa digendong dan diajak pamit. Anak mungkin menangis. Kita bisa bilang bahwa pemilik rumah mau istirahat, boleh juga alasan yang relevan. Karena udah ‘janjian’ pakai teknik jam dinding, maka kita bisa tetap mengajak pulang. Jangan kelamaan nego waktunya. Boleh lho janjian lagi dengan pemilik rumah, lain kali akan kembali bertandang ke sana. Atau sebaliknya mereka yang ke rumah kita.

Nah, mau persiapan sekeren apapun, kalau perginya sama anak selalu duga apa yang tidak diharapkan terjadi. Jadi siap mental aja. :D Nah, itu tadi sharingnya tentang berbagai ‘kecelakaan bertamu’. Moga-moga bisa buat bahan siap-siap bertamu. Lebaran besok ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar