expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 06 Juli 2015

Layanan Responsif Dalam Bimbingan Konseling

Layanan Responsif Dalam Bimbingan Konseling
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling di Sekolah
Dosen : Rian Rokhmad Hidayat, M.Pd
LOGO
Disusun oleh :
1.      Baharudin Syah Rizal                                  121221013
2.      Buyung Kahayunan Purwandalu               121221014
3.      Desi Mugi Rahayu                                        121221018
4.      Deva Larasati Lestari                                   121221019
5.      Diah Astuti Saputri Retnaningsih               121221020
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
SURAKARTA
2015

A.    Layanan Responsif
1.      Pengertian Layanan Responsif
Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak dengan segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas.
Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik pada saat ini dan layanan ini diberikan kepada peserta didik dengan segera.
2.      Tujuan Layanan Responsif
Tujuan layanan responsif adalah membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Indikator dari kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri ata perilaku bermasalah, atau malasuai (maladjustment). Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi konseli yang muncul segera dan dirasakan saat itu, dikenaan dengan masalah sosial, pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.
3.      Isi Layanan Responsif
Isi layanan responsif ini adalah bidang :
a.       Bidang pendidikan
Bidang pendidikan adalah pemilihan program studi di sekolah sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan; dan pemilihan program studi lanjutan di perguruan tinggi.
b.      Bidang belajar
Bidang belajar adalah cara belajar efektif dan cara mengatasi kesulitan belajar.
c.       Bidang sosial
Bidang social adalah cara memilih teman yang baik, cara memelihara persahabatan yang baik, dan cara pembentukan pola karier.
d.      Bidang pribadi
Bidang pribadi adalah pembentukan identifikasi karier, pengenalan karakteristik dan lingkungan pekerjaan, dan pembentukan pola karier.
e.       Bidang tata tertib di sekolah
Bidang tata tertib di sekolah adalah pengenalan tata tertib sekolah dan pengembangan sikap serta perilaku disiplin.
f.       Bidang narkotika dan perjudian
Bidang narkotika dan perjudian adalah penegenalan bahaya penggunaan narkotika dan pencegahan terhadap bahaya narkotika.
4.      Fokus Pengembangan Layanan Responsif
Fokus layanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan konseli. Masalah dan kebutuhan konseli berkaitan dengan keinginan untuk memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara positif. Kebutuhan ini seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi antara lain tentang pemilihan karir dan program studi, sumber-sumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas.
Masalah lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat konseli karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangan. Masalah konseli pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.
Masalah (gejala perilaku bermasalah) yang mungkin dialami konseli diantaranya:
1.      Merasa cemas tentang masa depan,
2.      Merasa rendah diri
3.      Berperilaku implusif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara matang)
4.      Membolos dari sekolah
5.      Malas belajar
6.      Kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif
7.      Kurang bisa bergaul
8.      Prestasi belajar rendah
9.      Malah beribadah
10.  Masalah pergaulan bebas (free sex)
11.  Masalah tawuran
12.  Manajeman stress
13.  Masalah dalam keluarga.
Untuk memahami kebutuhan dan masalah konseli dapat ditempuh dengan cara asesmen dan analisis perkembangan konseli, dengan menggunakan berbagai teknik, misalnya
1.      Inventori tugas-tugas perkembangan (ITP)
2.      Angket konseli
3.      Wawancara
4.      Observasi
5.      Sosiometri
6.      Daftar hadir konseli
7.      Daftar Cek Masalah
8.      Psikotes
9.      Daftar masalah konseli atau Alat Ungkap Masalah (AUM)
B.     Aspek-Aspek Layanan Responsif
1.      Bidang Pribadi
a.       Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
b.      Perolehan system nilai,
c.       Kemandirian emosional,
d.      Pengembangan keterampilan intelektual, dan
e.       Menerima diri dan mengembangkannya secara efektif.
2.      Bidang sosial
a.       Berperilaku sosial yang bertanggung jawab,
b.      Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya,
c.       Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga
3.      Bidang belajar
a.       Kurang memilki kebiasaan belajar yang baik,
b.      Kurang memahami cara belajar yang efektif,
c.       Kurang memahami cara mengatasi kesulitan belajar,
d.      Kurang memahami cara membaca buku yang efektif,
e.       Kurang memahami cara membagi waktu belajar, dan
f.       Kurang menyenangi pelajaran-pelajaran tertentu.
4.      Bidang karier
a.       Kurang memahami cara memilih program studi yang cocok dengan kemampuan dan minat,
b.      Kurang mempunyai motivasi untuk mecari informasi tentang dunia kerja,
c.       Masih bingung untuk memilih pekerjaan,
d.      Masih kurang mampu memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minat,
e.       Merasa cemas untuk mendapat pekerjaan setelah tamat sekolah, dan
f.       Belum memiliki pilihan perguruan tinggi tertentu, jika setelah tamat tidak masuk dunia kerja.
C.    Strategi Pelayanan
Strategi layanan responsif ini bersifat kuratif, strategi yang digunakan adalah
1.      Konseling Individual dan Kelompok
Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, peserta didik (konseli) dibantu untuk mengindentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual atau kelompok.
2.      Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan konseli kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Konseli yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.
3.      Kolaborasi dengan Guru atau Wali Kelas
Konselor kolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang peserta didik (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah peserta didik, dan mengindentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya:
1.      Menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar peserta didik,
2.      Memahami karakteristik peserta didik yang unik dan beragam,
3.      Menandai peserta didik yang diduga bermasalah,
4.      Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching,
5.      Mereferal (mengalihtangankan) peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing,
6.      Memberikan informasi yang up to date tentang kaitan mata palajaran dengan bidang kerja yang diminati peserta didik,
7.      Memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada peserta didik tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja),
8.      Menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi peserta didik),
9.      Memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikan secara efektif.
4.      Kolaborasi dengan Orang tua
Konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua peserta didik. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap peserta didik tidak hanya berlangsung di Sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dengan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi peserta didik. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti:
1.      Kepala Sekolah atau komite sekolah mengundang para orangtua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannya dapat bersamaan dengan pembagian rapor.
2.      Sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah peserta didik
3.      Orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya.
5.      Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait
Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait di luar sekolah; yaitu berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak,
1.      Instansi pemerintah
2.      Instansi swasta
3.      Organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia)
4.      Para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dan dokter.
5.      MGP (Musyawarah Guru Pembimbing)
6.      Konsultasi
Konselor menerima pelayanan konsultasi bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah yang terkait dengan upaya membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan referal, dan meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.
7.      Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
Bimbingan teman sebaya adalah bimbingan yang dilakukan oleh peserta didik terhadap peserta didik yang lainnya. Peserta didik yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Peserta didik yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu peserta didik lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu, dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah peserta didik yang perlu mendapat pelayanan bantuan bimbingan atau konseling.
8.      Konferensi Kasus
Konferensi kasus adalah kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi kasus ini bersifat terbatas dan tertutup.
9.      Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah adalah kegiatan untuk memperoleh data atau keterangan tentang peserta didik tertentu yang sedang ditangani, dalam upaya menggentaskan masalahnya, melalui kunjungan ke rumahnya.
D.    Pelaksanaan Layanan Responsif di Sekolah dalam Bimbingan dan Konseling
Pelaksanaan layanan responsif di sekolah dalam bimbingan dan konseling adalah segenap unsur yang terkait dalam organigram pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan koordinator dan guru pembimbing/konselor sebagai pelaksanaan utamanya. Pelaksanaan layanan responsif adalah pelaksanaan atau layanan bantuan yang diberikan kepada siswa dengan segera seperti siswa tersebut mengalami masalah maka layanan responsif sangat dibutuhkan untuk memerlukan kebutuhannya.  Uraian tugas masing-masing perindividu tersebut yaitu:
1.      Kepala sekolah penanggung jawab kegiatan pendidikan secara menyeluruh, khusunya pelayanan bimbingan dan konseling bertugas :
a.       Mengkoordinasikan segenap kegiatan yang diprogramkan di sekolah.
b.      Menyediakan sarana, prasarana, tenaga pelayanan bimbingan dan konseling,
c.       Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling, dan
d.      Mempertanggungjawabkan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah kepala dinas pendidikan yang menjadi atasanya.
2.      Wakil kepada sekolah bertugas :
a.       Membantu melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling.
3.      Koordinator bimbingan dan konseling
a.       Mengkoordinasikan para guru pembimbing dalam memasayarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling, menyusun program pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan program bimbingan dan konseling, mengadministrasikan program kegiatan bimbingan dan konseling, mengevaluasi pelaksanaan program, melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling.
b.      Mengusulkan kepada sekolah mengusahakan terpenuhinya sarana, prasarana, tenaga, dan alat serta perlengkapan pelayanan bimbingan dan konseling, dan
c.       Mempertanggungjawabkan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah.
4.      Tugas guru pembimbingan dalam pelayanan bimbingan dan konseling :
a.       Melakasankan layanan bimbingan dan konseling,
b.      Memasyarakatkan layanan boimbingan dan konseling,
c.       Merencanakan program bimbingan dan konseling,
d.      Melaksanakan segenap program layanan responsif bimbingan dan konseling,
e.        Mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan program layanan responsif bimbingan dan konseling,
f.       Mengadministrasikan kegiatan layanan responsif bimbingan dan konseling,
g.      Melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi program pelayanan responsif bimbingan dan konseling, dan
h.      Memepertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan responsif bimbingan dan konseling kepada coordinator bimbingan dan konseling.
5.      Peran guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan layanan responsif
a.       Membantu dan mengidentifikasikan peserta didik yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling serta mengumpulkan data peserta didik tersebut,
b.      Mengalihtangankan peserta didik yang memerlukan layanan responsif bimbingan dan konseling,
c.       Memberikan kemudahan bagi peserta didik yang memerlukan palayanan responsif bimbingan dan konseling,
d.      Berpasitipasi dalam kegiatan penanganan masalah peserta didik, seperti konferensi kasus, dan
e.       Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling, upaya tindak lanjutnya.
E.     Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, bahwa layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Dan bertujuan untuk membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Strategi layanannya, diantaranya sebagai berikut:
1.      Konseling individual dan kelompok
2.      Referal
3.      Kolaborasi dengan guru atau wali kelas
4.      Kolaborasi dengan orang tua
5.      Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait
6.      Konsultasi
7.      Bimbingan teman sebaya
8.      Konferensi kasus

9.      Kunjungan rumah

Pendakian Gunung Merbabu Part 2

Merbabu Again..,,

Merbabu masih membuat penasaran saya, karena itu saya berniat untuk bersilaturahmi kembali. Pendakian kali ini saya lakukan bersama teman-teman kampus dengan Mbak Asni, Mbak Atika, Mas Pundat dan Masnya Mbak Asni. Bada ashar saya bersiap-siap dari rumah menuju kost mbak Asni didekat kampus saya, kampus IAIN Surakarta. Sekitar pukul setengah 5 saya sudah berada di kost mbak Asni dan harus menunggu Mbak Tika, Mas Pundat dan Masnya mbak Asni. Sambil menunggu tak lupa kami menunaikan kewajiban kami, sholat maghribpun kami tunaikan. Sholat maghrib telah ditunaikan, akhrinya teman-temanpun datang. Kami mulai packing dan mengecheck barang-barang bawaan kami masing-masing. Selesai kami packing, suara adzan isya mulai terdengar dan kami menunaikan kewajiban sholat isya terlebih dahulu sebelum berangkat menuju ke Merbabu. Sholat isya usai, kami menunggu waktu berangkat, tepat pukul delapan kami bersiap meninggalkan kost mbak Asni menuju Basecamp Merbabu. Jalanan dari Kartasura menuju Selo, basecamp siap kami arungi. Jalanan mulai menuju cepogo dingin mulai terasa, semakin naik semakin mendekati selo dan melewati irung petruk udara dingin mulai merasuk ke tulang-tulang, tangan mulai kaku dan mati rasa, kami harus ekstra hati-hati dalam perjalanan ini semua. Sekitar pukul setengah sepuluh akhirnya sampai juga di basecamp merbabu. Kali ini sepeda motor tidak berhenti terlebih dahulu di basecamp, tapi langsung naik sampai gerbang pendakian gunung merbabu.

Setelah sampai kami mulai turun, dan yang bawa sepeda motor kembali ke bawah untuk memarkir sepeda di basecamp. Saya dan tika pun menunggu mbak Asni, Mas Pundat dan Mas Fajar di depan gerbang. Sekitar sepuluh menit berlalu, kami pun lengkap berlima berkumpul dan berdoa bersama untuk mengawali perjalanan malam menyusuri gunung. Doa usai, mulailah kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan setapak yang gelap dan senterpun jadi alat penerang kami. Pendakian merbabu yang kedua kali bagi saya ini, tidak seperti pendakian pertama lalu yang baru lima langkah break, lima langkah break. Tapi, rupanya hal itu dialami oleh tika yang baru pertama kali melakukan pendakian. Sekarang ambil posisi, saya berada paling tepat disusul dibelakang saya mas Pundat, dibelakangnya Mbak Asni, selanjutnya tika dan mas Fajar. Mas fajar dibelakang bertugas menyemangati dan memotivasi si tika. Karena keadaan yang sangat dingin, dan berhenti semakin lama membuat badan kaku. Maka saya mbak asni dan mas pundat disuruh mas fajar untuk berjalan duluan, dan beristirahat ditempat yang lebih enak. Di pertengahan perjalanan pos 1, kami memutuskan untuk beristirahat dan membuka beberapa cemilan dan makanan ringan, tanpa pikir panjang karena lapar dan sebagai pengusir dingin langsung lahap dech makanan tersebut. Setelah dirasa cukup, perjalanan kami dilanjutkan. Dan akhirnya sampailah di pos 1.

Perjalanan kami berlanjut menuju ke pos 2, jalan yang harus dileati semakin memperlihatkan jalan sebenarnya di gunung. Jalanan setapak mulai naik, kami lalui dan lewati. Pos 2 bayangan telah kami injak, dan ternyata disini tak berubah saat pendakian pertama saya, yaitu baunya tidak enak, bau air kencing yang semerbak berhembus ditiup anging pegunungan. Karena tidak enak tersebut, perjalanan menuju pos 2 kami lanjutkan. Posisi tempat masih tetap seperti tadi, dan dibelakang mas Fajar masih semangat memotivasi tika yang sepertinya hampir putus asa. Jalanan menuju pos 2 terus kami lalui, dan kami lewati. Tanah licin tetap kami lewati, dan dekat dengan pos 2 ternyata naikkannya semakin tinggi. Dan akhirnya saya dan mas pundat memutuskan berhenti dan beristirahat di pos 2 sembari menunggu mbak asni, mbak tika dan mas fajar. Saat menunggu, mas pundatpun kembali mengeluarkan makanan ringannya kembali, tak lama datanglah mbak asni seorang diri. Ternyata mbak tika dan mas fajar masih dibelakang. Detik demi detik, menit demi menit ditunggu akhirnya mereka datang juga dan personel kita lengkap. Saat beristirahat di pos 2, ada yang lewat 4 orang, 2 orang pria dan 2 orang wanita. Dengan sedikit say hello kamipun menyapa,
“Mari, mas.. Mari, mbak..”
“Iya, mas.. iya mbak, nutrisari. Darimana mas mbak?”
“Kami dari Solo. Lha mas mas dan mbak-mbaknya?”
“Solonya mana mas mbak? Kami dari kartasura.”
“UMS. Kalian?”
“IAIN Surakarta. Tetanggaan ternyata.. hehehhe.”
“Iya mas, tetanggaan ternyata. Ya sudah mas mbak kami duluan, ketemu lagi ntar di puncak. Hehhe”
“Iya .. hehhehe”
Mas mbak UMS telah hilang dari hadapan kita dan suasana kembali menjadi sepi sunyi. Pendakian kali ini termasuk sepi, karena hingga perjalanan pos 2 baru 1 rombongan yang menyusul naik.
Setelah istirahat dirasa usai, kami melanjutkan perjalanan ke pos 3. Ternyata, ulala track semakin menantang. Batu-batu besar dengan tanah yang cukup tinggi kami lewati. Akhirnya sekitar pukul setengah dua, sampailah kami di pos 3. Karena dingin semakin menusuk-nusuk tulang, tanpa pikir panjang dome segera kami dirikan. Dengan jurus cepat kilat satu dome telah berdiri dengan gagah. Dan kami para wanita-wanita mendapat perlakuan special, yaitu kami disuruh untuk segera masuk ke dome yang telah berdiri untuk menghangatkan tubuh dan menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk mengusir dingin. Akhirnya mas fajar memutuskan untuk memasak di dalam tenda, karena di luar angin sangat besar dan api selalu mati. Saat memasak tanpa sengaja kompor kesenggol dan jatuh, tapi untungnya tidak mengenai dome dan tidak terbakar. Setelah perut terisi kami mulai membaringkan badan untuk beristirahat untuk melanjutkan pendakian selanjutnya. Dingin membuat tidur tidak nyenyak, tetapi saya mencoba selalu memejamkan mata. Hingga saya membuka mata ternyata sudah pukul setengah lima dan waktunya sholat subuh. Berwudhu dengan tayamun pun kami lakukan. Kiblat sesuai yang diyakini. Sudah siap kamipun sholat subuh didalam dome, saya, mbak asni dan mbak tika berjamaah bareng. Setelah sholat selesai, kamipun keluar dari dome. Dan apa yang terjadi, kabut turun, jarak pandang dekat dan badai menyerbu kami. Dan kami akhirnya tidak memutuskan untuk melanjutkan pendakian, tapi kembali untuk turun. Seperti lyric lagu, “Walau badai menghadang, pemotretan tetap dilakukan”. Setalah asyik dan puas berfoto-foto, dan karena badai mulai tak dapat dilawan, air mulai turun dari atas, dingin semakin tak terelakkan dan semakin menusuk-nusuk tulang. Kami memutuskan untuk packing dan kembali turun ke basecamp.

Kebiasaan sayapun terjadi lagi, yaitu saat turun tak terpeleset, takut jatuh, dan takut-takut lainnya. Jalanan pos 3 ke pos 2, pos 2 ke pos 1, dan pos 1 menuju basecamp pun kami lalui satu persatu, tapak demi tapak saya langkahkan kaki saya. Dan alhamdulillah, puji syukur akhirnya sampailah di basecamp. Setelah sampai di bacecamp perjalanan pulang ke kartasura kami lanjutkan. Dan di masjid dekat polsek selo, kami memutuskan untuk bersih-bersih dan mejalankan kewajiban kepada Allah. Istirahat tak lupa kami lakukan, setelah siap semua lengkap perjalanan kami lalui. Jalanan naik-turun yang membahayakan, ramaian kota kami lalui. Akhirnya sampailah sekitar pukul setengah tiga di kost mbak Asni di dekat kampus IAIN Surakarta. Dan saya memutuskan untuk langsung pulang dengan diantar tika sampai ke Mega Merapi dan perjalanan saya lanjutkan dengan menaikki angkutan dan turun di bangjo pakis. Perjalanan jalan kaki masih harus saya tempuh, agar bisa sampai rumah. Alhamdulillah akhirnya sampai juga dirumah.
Terimakasih mbak Asni, mbak Atika, Mas Pundat dan Mas Fajar yang telah memberikan coretan-coretan pengalaman dalam hidup saya melalui pendakian merbabu kali ini.

Pendakian Gunung Lawu, Perdana

Pendakian lawu perdana ini, tanpa persiapan yang matang dan sangat mendadak. Kami berangkat mendaki tanggal 24 Januari 2014 hari sabtu tepat saat siangnya terjadi gempa yang dapat dirasakan sampai klaten dan pusat gempa tidak saya ketahui jelas. Sehari sebelumnya, yaitu hari jumat malam saya disms mbak ita,
“Diah, besuk naik yuk?”
“Naik kemana mbak?”
“Lawu.”
“Sama siapa aja mbak?”
“Sama temanku anak kampus juga. Mau ya, temani aku naik?”
“Belum bisa jawab, mbak. Minta izin Ibu dulu aku.”
Mungkin begitulah singkat sms awal rencana pendakian Lawu perdana. Setelah sms selesai, saya mencoba meminta izin ke Ibu. Ibupun mengizinkannya dan saya membalas pesan mbak Ita untuk mengiyakan ajakan naik Lawu.
Tepat siang hari sebelum malam pendakian, saya bermain kerumah teman saya dan saat itulah terjadi gempa bumi. Pendakianpun terbesit untuk saya pending, tetapi persiapan dari mbak Ita dan temannyapun sudah ready. Ragupun menghampiri, tanya lagi ke Ibu. Ibupun menyerahkan semua kepada saya, dan saya minta pendapat kepada teman saya yang lain. Jangan berangkat. Itu jawaban yang langsung diberikan. Saat mau mengabari untuk memending pendakian, mbak itapun sudah datang kerumah dengan membawa dome. Duch, masak iya mau batalin padalah udah pada semangat. Itulah yang terbesit dalam pikiran saya. Dengan basmalah, saya putuskan untuk melanjutkan rencana pendakian ke Gunung Lawu. Persiapanpun saya lakukan. Cari barang dan alat kesana-kemari saya lakukan. Dan saya dengan mbak Ita janjian untuk berkumpul ke rumah saya setelah isya.
Sekitar pukul setengah delapan, mbak ita sudah menghampiri saya untuk melakukan pendakian. Saya memohon izin dan doa restu ke Ibu, lalu saya bersama mbak Ita meninggalkan rumah saya menuju kampus saya, IAIN Surakarta untuk bertemu dengan Mas Ahsan. Kami berkumpul di SC IAIN Surakarta untuk memacking ulang bawaan kami. Setelah siap, kami mulai meninggalkan kampus saya tercinta, menuju basecamp gunung lawu. Dan Mas Ahsan memilih basecamp Cemoro Sewu untuk dijadikan awal pendakian lawu kali ini. Jalanan solo karanganyar, karanganyar tawangmangu dan tawangmangu magetan siap kami arungi. Semakin kami dekat dengan basecamp, dingin dengan sigap menusuk-nusuk tulang kami. Dingin tetap kami hadapi, kami mencoba melawan dingin. Tak terasa basecamp pun kami capai. Kami memarkirkan sepeda motor dan mencari perlindungan dari sergapan dingin. Basecamp cemoro kandang saat itu termasuk dalan keadaan sepi, karena banyak pendaki yang lebih memilh mendaki melalui cemoro sewu. Sebelum naik kami memutuskan untuk mengisi perut yang mulai kroncongan. Soto dengan teh hangat yang kami pinta, tak lama semangkok soto dan teh hangat udah dihadapan siap untuk disantap. Setelah selesai makan, kami kembali ke basecamp untuk mendaftar mendaki.






Sekitar pukul setengah dua belas, dan diawali dengan doa kami memulai pendakian. Pendakian melalui cemoro kandang lebih sepi, karena banyak pendaki yang memilh melewati cemoro sewu. Karena kata orang-orang kalau lewat cemoro kandang itu lebih jauh, jalannya agak mutar. Dan kalau cemoro sewu jalanan sudah bertangga dan diatas ada yang jualan. Baru berjalan setengah jam, saya sudah sering meminta untuk beristirahat. Badan saya mulai tidak bersahabat, kepala pusing, perut ndak enak, mual pengen muntah. Semua terasa ndak enak dan ingin mengakhiri pendakian ini. Tetapi, mbak Ita dan mas Ahsan selalu memberi semangat kepada saya. Dan saya mulai jalan pelan-pelan. Tetapi belum nyampai pos satu, saya pun sudah tidak tahan lagi, rasa pusing dan lemas pun menyerang saya. Dan sayapun terjatuh dan tiduran di atas pohon yang roboh. Rasanya untuk mengangkat kepala saja yang tidak kuat. Dan mas Ahsanpun memutuskan untuk ngecamp karena melihat kondisi saya yang tidak memungkinkan. Ditunggu dan ditunggu akhirnya dome pun berdiri dengan gagahnya. Dan saya disuruh untuk masuk kedalam dome, tetapi saat saya mencoba berdiri, saya malah terjatuh, lemas sekali dan pusing yang saya rasakan. Akhirnya mbak Ita memapah saya menuju dome. Di dalam dome saya langsung memakai sb dan disuruh untuk tidur. Saya mencoba memejamkan mata, tapi rasa mual membuat saya susah memejamkan mata. Minumn hangat diberikan kepada saya dan saya mencoba meminumnya. Dan saya mulai memejamkan mata kembali. Akhirnya sayapun terpejam, hingga akhirnya saya terbangun oleh sorotan matahari yang menyinari alam ini.
Setelah terbangun kami mulai menyiapkan nesting dan kompor untuk memasak mie untuk mengisi perut kami. Setelah dirasa kondisi memungkinkan, kami memutuskan untuk packing dan melanjutkan perjalanan pendakian kali ini. Alhamdulillah saya sudah merasa enakan, walaupun masih terasa lemas. Akhirnya, kami sampai di pos 1. 

Di pos 1 kami memutuskan untuk beristirahat dan segera keluarkan kamera dan mulai ngeksis. Cepret sana cepret sini, gaya gini gaya gitu. Dirasa cukup kami melanjutkan pendakian kami, jalanan tanah pun kami susurui. Bau menyengat dari belerang pun menganggu hidung saya. Akhirnya sampailah di pos 2, kami beristirahat lagi. Dan mulai foto-foto lagi. Setelah melihat alat waktu, ternyata tidak memungkinkan kami untuk melanjutkan pendakian. Dikarenakan sorenya kami sudah mempunyai acara masing-masing. Akhirnya kami memutuskan untuk turun kembali, dan pendakian perdana lawu ini puncak kesepakatan kami adalah pos 2.
Disepanjang perjalanan turun, kami selalu ngeksis untuk berfoto-foto. Tapi saat ditengah perjalanan ke pos 1, sungguh sangat disayangkan kami melihat bapak-bapak yang menebang pohon yang kayunya akan dibawa pulang. Karena wajah bapak itu sangat sangar, maka kami hanya lewat dan menganggukan kepala. Tatapan sinis dari bapaknyapun kami terima. Karena cari aman, kami mempercepat laju perjalanan menuju basecamp. Alhamdulillah suara sepeda motor sudah terdengar dengan jelas, tandanya basecamp semakin dekat. Puji syukur kami haturkan saat kami sampai di basecamp. Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Istirahat cukup, kamipun memutuskan untuk pulang tak lupa kami berpamitan kepada bapak penjaga basecamp. Jalanan menuju karanganyarpun siap kami arungi, dan alhamdulillah kami sampai dirumah dengan selamat.

Terimakasih untuk Mbak Ita dan Mas Ahsan, yang telah memberikan pelajaran baru dalam pendakian kali ini. Dan terimkasih telah merawat saya, saat saya tepar. Maaf pula sudah banyak merepotin dan maaf belum bisa sampai puncak. Terimakasih JJJ

Pendakian Pertama di Gunung Merbabu: Hanya sampai Pos II :(

Pendakian pertama ini dilakukan saat saya masih semester tiga, sore itu kami memutuskan untuk berkumpul dirumah Dila di sekaran, wonosari, klaten. Sesampai disana saya disambut dengan hangat oleh Ibunya Dila, waktu itu Dila belum berada di rumah. Dia sedang menukar sepeda motornya dengan sepeda motor yang lebih kuat milik kakaknya. Karena rute jalan menuju gunung kan tinggi, jadi perlu sepeda motorpun yang kuat juga. Disana saya juga harus menunggu Kang Debi yang kembali pulang untuk mengambil kameranya yang ketinggalan dirumah. Tak lama ditunggu Kang Debi pun datang, dan disusul si Dila. Semua sudah terkumpul dan sekarang waktunya packing ulang. Melihat bawaan mereka, kayaknya bawaan dan cara packing saya salah dech. Si Dila aja sampai bilang, “Kamu bawa apa aja, Diah? Besar banget tasmu, ndak takut keberatan ntar?” “Hehhehehe, aku Cuma bawa yang dismsin Kang Debi nich, tapi kox tasku doanx ya yang terlihat besar. Duch salah bawa kali ye aku, hehhehe”
Setelah packing selesai, kita memutuskan untuk menuju ke Gapura Kampus saya, yaitu Gapura IAIN Surakarta yang lebih terkenal dengan nama Merapi, tapi bukan Gunung Merapi ya, lebih terkenal dengan Merapi karena disebelah gapura ada bengkel yang bernama Mega Merapi dan sering disebut Merapi. Kami memutuskan untuk menunggu di depan tempat potong rambut. Disitulah saya bertemu dan berkenalan dengan Mbak Elisa dan Mas Fajar. Setelah say hello, say hello akhirnya diketahui lah ternyata Mas Fajar itu juga mahasiswa IAIN. Tetapi Mas Fajar berbeda jurusan dengan saya, saya jurusan BKI dan Mas Fajar jurusan Ekonomi. Ternyata disana kami harus menunggu dua teman lagi dari Mas Fajar. Tepat pukul setengah 6 akhinya berkumpullah kami tujuh orang, dan memutuskan untuk berangkat. Keluar dari gapura IAIN Surakarta ambil kiri sampai depan kolam renang Kopasus belok kanan dan berputar arah menuju bundaran kartasura. Setelah sampai bundaran kartasura ambil kiri, jalanan boyolali, solo-semarang mulai kami arungi. Setelah itu kami, mengambil jalan menuju cepogo dan selo. Jalanan menuju selo pun, ulala banget jalanan naik dan belokan menukik yang sering disebut irung petrukpun, kami lalui dengan semangat. Udara dingin menyambut kedatangan kami, dan mulai menusuk ke tulang. Rasanya ingin mengurungkan niat mendaki karena dingin yang tidak terkira. Sampai di Polsek Selo kami belok kanan memasukki gang dan menuju basecamp merbabu. Basecamp merbabu ini berada di dalam desa. Untuk mencapai basecamp tersebut jalanan naik menukik dan gelap menyambut kami. Dan alhasil, saya harus turun dari boncengan dan jalan kaki dibeberapa tanjakkan karena sepeda Kang Debi tidak kuat membawa beban naik tanjakkan. Duch, mendaki gunung aja belum, tapi udah jalan naik dengan bawaan berat sekali. Hheemm, tak disangka setelah berjalan cukup jauh akhirnya sampailah dibasecamp Merbabu. Disana kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan tak lupa menunaikan shalat maghrib dan isya. Setelah kewajiban sudah ditunaikan dan istirahat dirasa cukup, sekitar pukul 9 kami memutuskan keluar dari basecamp dan memulai pendakian. Ternyata jalanan beraspal dari basecamp sampai gerbang pendakian, masih luumayan lah. Saya pikir mah keluar basecamp langsung jalan setapak, ternyata tidak. Semangat lah, hehhehe. 

Tepat di depan gerbang pendakian selo, kami memanjatkan doa untuk keselamatan kami dan mohon perlindungan Allah. Mas Fajarpun memimpin doa, setelah doa selesai senter mulai dinyalakan. Duch awal jalan aja, saya udach salah bawa senter. Ya, saya membawa senter dengan cahaya merah, dan kata teman-teman kalau untuk pendakian lebih baik pakai senter cahaya putih. Dengan alasan cahaya putih itu jarak pancarannya lebih jauh dan lebih terang. Oke dech, lain kali kalau naik ndak pakai senter ini lagi dech, tapi kayaknya nggaakk akan naik lagi dech. Baru jalan belum ada lima menit aja, udach teriak “break” nafas mulai tak teratur. Setelah istirahat dirasa cukup, kami mulai jalan lagi. Di perjalanan pendakian pertama ini, kami khususnya saya lebih banyak beristirahat, mungkin baru pertama kali saya belum terbiasa. Waktu yang biasa ditempuh dari basecamp ke pos 1 adalah 1-1,5 jam, karena saya yang melewati hingga mencapai hampir 2  jam an. Di pertengahan perjalanan pos 1, sepatu saya rusak ternyata dan tidak memungkinkan untuk dipakai, akhirnya salah satu teman mas Fajar meminjamkan sandalnya untuk saya. Duch, salah lagi kan saya, sendal yang saya pakai tidak sesuai. Dan karena bawaan kami sudah berat, maka sepatu saya ditinggal di atas pohon yang ambruk kalau besuk masih ada ya dibawa pulang, kalau tidak ada ya diikhlaskan saja kali ye, hhehehe.
Pos 1 akhirnya sudah kami lewati, karena cuaca yang sangat dingin kami memutuskan untuk mengeluarkan peralatan memasak. Jjiiaah, sang koki langsung dengan sigap menyiapkan minuman hangat. Ditunggu dan ditunggu akhirnya minuman hangat pun siap dinikmati didampingin makanan ringan. Dirasa istirahat cukup, peralatan memasakpun dipacking ulang dan perjalanan siap dilanjutkan.

Perasaan ogah-ogahapun mulai merasuk ke diri, tapi perasaan perkewuh dan tidak enak kepada teman-temanpun mampu melawan itu semua. Perjalanan menuju pos dua pun semakin ulala, tanjakkan mulai ditemui. Satu jam berlalu, akhirnya pos bayangan pun kami lewati. Di sinilah kami mulai istirahat lagi. Di pos bayangan itu ternyata baunya tidak sedap, mungkin banyak yang buang air kecil disini yang menyebabkan bau tidak sedap. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke pos 2, jalanan tanah disertai batu besarpun kami lewati. Ditengah perjalanan, seolah-olah tergelitik untuk melihat ke belakang, daripada penasaran akhirnya saya membalikkan badan, subhanallah sungguh indah kemerlap lampu yang menyala membelah jalanan. Terlihat dengan jelas jalanan boyolali kota dengan indahnya. Terlalu lama diam ternyata membuat badan kedinginan, dan kaku untuk bergerak. Dan kami memutuskan untuk berjalan lagi. Sekitar pukul 1 akhirnya kami sampai dipos 2, karena tenaga yang tak mungkin lagi diperas untuk mengarungi perjalanan menuju puncak merbabu. Kami memutuskan untuk istirahat dan ngecam dipos 2. Peralatan ngecam kami keluarkan dengan ekstra hati-hati, dome dan peralatan masakpun juga dikeluarkan. Karena cacing diperut udach pada demo, maka kami bagi tugas ada yang mendirikan dome dan ada yang memasak mie. Setelah dome berdiri dengan gagah, cacing udah disuap dengan mie, kami bersiap-siap untuk memejamkan dan berharap mimpi indah. Saat itu sangat dingin banget, tidurpun kami sangat terganggu.
Saat mata masih terpejam, telinga mulai tergelitik oleh salah satu alarm adzan subuh dari handpone, akirnya kami mulai lah menyiapkan diri untuk menunaikan shalat subuh. Shalat subuh selesai, ternyata sb memanggil-manggil untuk disentuh lagi. Karena masih dingin banget, tanpa pikir panjang langsung sambar aja sb tersebut dan mulai memejamkan mata kembali. Dua jam berlalu, mata mulai digelitik oleh pancaran cahaya yang sedikit menghangatkan tubuh. Mata langsung melirik jam tangan, “What?”, udach hampir jam 7 ternyata. Akhirnya kami semua membuka dan berunding untuk melanjutkan pendakian kali ini atau tidak, karena teman-teman sudah lama tidak melakukan pendakian dan ini pendakian pertama saya. Dan fisik belum terbiasa, kami memutuskan tidak melanjutkan pendakian. Akhrinya di pos 2 ini lah kami melakukan pemotretan-pemotretan nnggaakk jelas alias narsong. Pemotretan selesai akhirnya kami memasak mie lagi untuk bahan bakar menuruni pos 2 menuju basecamp. Sarapan usai, kami akhirnya packing, satu persatu barang dimasukkan dan ditata rapi di dalam tas kami masing-masing. Semua udach dipacking, sudah dimasukkan semua, kami meninggalkan pos 2 menuju bacesamp.
Perjalanan turun ternyata lebih menakutkan, tak disangka semalam melewati jalanan seperti ini. Bingung turun, takut terpeleset, takut njungkel semua ada diotak. Berbekal yakin dalam menepakkan kaki, akhirnya pos 1 udah di depan mata. Sepertinya udach kangen berat seperti bertahun-tahun tidak ketemu basecamp, pos 1 Cuma untuk numpang lewat aje lah, hehhehe. Akhirnya kami melewati jalanan dimana saya kemaren menaruh sepatu, ternyata sepatu saya masih ada dan katanya kan, klo gunung, “Jangan tinggalkan apapun selain jejak”, maka sepatu tersebut saya ambil kembali. Dijalanan menuju baecamp, kami mulai foto-foto ndak jelas gitu. Akhirnya kami sampai di gerbang pendakian selo, disinilah pemotretan diakhiri dengan foto bersama. Alhamdullillah syukur selalu saya panjatkan, akhirnya kami sampai di basecamp merbabu walaupun puncak tidak kami capai. Perasaan tidak enakpun hadir, perkewuh kepada teman-teman karena saya merasa membuat pendakian menuju puncak teman-teman terganggu. Tetapi disinilah saya belajar banyak pelajaran, antaralain tentang kebersamaan, kesolidaritasan, kepemimpinan, dan laim-lain.

Terimakasih Kang Debi, Mbak Dila, Mas Fajar, Mbak Elisa, dan 2 teman dari Mas Fajar telah menemani pendakian pertama saya. Dan kalian yang pertama kali mengenalkanku akan gunung yang sebenarnya. Terimakasih.. J J J